UTM Gelar Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1: Tempa Jiwa Tangguh, Satukan Semangat Kemanusiaan

35
0
Share:

Bangkalan, 10 Oktober 2025 — Di tengah meningkatnya tantangan kebencanaan dan kebutuhan akan sumber daya manusia yang tangguh, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali meneguhkan komitmennya terhadap pengembangan karakter mahasiswa melalui kegiatan Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1. Dengan mengusung tema “Challenge the Height, Strengthen the Bone”, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan fisik, tetapi juga ruang pembelajaran tentang keberanian, solidaritas, dan kemanusiaan.

Upacara pembukaan digelar dengan khidmat dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Taufani Sagita (Pembina), Subhan Fajar Sidik (Dewan Perintis), Abraham Firmansyah (DP2O) atau perwakilannya Yudhi Lesmana, Damanhuri (Alumni MPA GHUBATRAS), serta perwakilan organisasi kemahasiswaan KM-UTM.

Kegiatan ini terselenggara atas dukungan banyak pihak mulai dari instansi pemerintah, lembaga sosial, hingga komunitas pecinta alam yang memiliki kepedulian terhadap kesiapsiagaan bencana di Indonesia.

Empat narasumber utama: Teddy Ixdiana, Data Pela, Adrian Daely, dan Kamia Rahayu hadir memberikan pembekalan komprehensif, baik teori maupun praktik. Mereka tidak hanya mengajarkan teknik penyelamatan di medan vertikal, tetapi juga menanamkan nilai penting: kerja sama, empati, dan kecepatan dalam mengambil keputusan di situasi kritis.

“Pelatihan ini bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi tentang mentalitas dan kepedulian sosial. Setiap tindakan penyelamatan adalah wujud cinta terhadap sesama, ”ujar Data Pela, salah satu instruktur asal Malang yang juga tenaga ahli di Vertical Rescue Indonesia (VRI).

Ia menjelaskan bahwa Vertical Rescue Indonesia merupakan lembaga non-profit yang digagas oleh Kang Teddy Ixdiana, berawal dari upaya memperkenalkan olahraga panjat tebing hingga berkembang menjadi lembaga kemanusiaan. Kini, VRI aktif dalam berbagai kegiatan sosial seperti pembangunan jembatan gantung dan pelatihan penyelamatan vertikal di berbagai daerah Indonesia.

Kegiatan yang digelar oleh Mahasiswa Pencinta Alam MPA GHUBATRAS UTM ini diikuti oleh 60 peserta dari berbagai latar belakang mulai dari mahasiswa, komunitas relawan, hingga aparat dari lembaga penanggulangan bencana. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan semangat yang sama: belajar, berbagi, dan membangun jejaring kemanusiaan.

Salah satu peserta, Almuhlisin dari BPBD Kabupaten Sampang, mengaku banyak mendapatkan manfaat dari pelatihan ini.

“Saya mendapatkan ilmu dan teman baru dari berbagai daerah. Kegiatan seperti ini sangat penting dan sebaiknya diadakan setiap tahun agar semakin banyak yang memahami teknik vertical rescue,” tuturnya.

Dua anggota Polairud Polda Jawa Tengah, Aiptu Dedi Rahmat dan Aiptu Sulung Juni Cahyanto, juga turut ambil bagian. Menurut Aiptu Sulung, pelatihan ini menjadi pengalaman berharga yang dapat memperkuat kemampuan tim SAR Polairud dalam operasi penyelamatan di wilayah perairan Jawa Tengah.

Bagi UTM, kegiatan seperti ini bukan sekadar pelatihan, melainkan bagian dari pendidikan holistik.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Surokim, S.Sos., S.H., M.Si., menegaskan bahwa dunia kampus harus menjadi ruang untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi situasi nyata.

“Pelatihan ini mempertemukan teori akademik dengan praktik lapangan. Mahasiswa tidak hanya belajar berpikir logis, tetapi juga tangguh secara mental dan siap bertindak dalam kondisi darurat,” ujarnya.

Selain memperkuat keterampilan teknis, kegiatan ini juga menumbuhkan soft skills seperti kepemimpinan, komunikasi efektif, dan kemampuan bekerja dalam tim keterampilan yang kini menjadi kebutuhan utama dalam dunia profesional dan kemanusiaan.

Instruktur senior Adrian Daely menambahkan,

“Yang paling berharga dari pelatihan ini bukan sekadar ilmu teknis, tapi bagaimana kita ditempa menjadi pribadi yang lebih kuat dan peduli.”

Filosofi “Challenge The Height, Strengthen The Bone” sejalan dengan nilai-nilai UTM: berani menghadapi tantangan dan mampu beradaptasi dalam situasi apa pun.
Di setiap simpul tali dan dinding tebing, para peserta belajar arti kerja sama, kesabaran, dan kepercayaan.

Pelaksanaan Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1 juga menjadi bentuk nyata dukungan UTM terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek Quality Education, Good Health and Well-being, serta Partnerships for the Goals.

Taufani Sagita, Pembina MPA GHUBATRAS, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini.

“Pelatihan ini adalah ruang untuk menempa mental dan karakter mahasiswa agar tangguh menghadapi tantangan global. Terima kasih atas kolaborasi dan dukungan semua pihak. Teruslah menjadi cahaya bagi kemanusiaan,” ujarnya menutup sambutan.

Sejak berdiri pada tahun 1989, MPA GHUBATRAS UTM telah menjadi wadah pembinaan mahasiswa pecinta alam yang tak hanya fokus pada kegiatan konservasi, tetapi juga pengabdian untuk kemanusiaan. Melalui pelatihan ini, UTM sekali lagi membuktikan perannya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengabdian dan inovasi sosial bagi bangsa.

Leave a reply