Dorong Budaya Hidup Sehat, UTM Resmi Mulai Program Prolanis di Klinik Pratama

4
0
Share:

BANGKALAN – Upaya membangun lingkungan kampus yang sehat terus diperkuat Universitas Trunodjoyo Madura (UTM). Melalui Klinik Pratama, UTM resmi meluncurkan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), Jumat (30/10/2026), bertempat di Gedung Graha Utama Lantai 1.

Peluncuran program ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kesadaran sivitas akademika terhadap pentingnya menjaga kesehatan, melakukan deteksi dini, serta mengendalikan risiko penyakit kronis, terutama diabetes melitus dan hipertensi.

Kegiatan diawali dengan senam bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) UTM. Suasana penuh semangat tersebut menjadi gambaran bahwa menjaga kesehatan dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana, seperti rutin berolahraga dan menerapkan pola hidup aktif. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembukaan oleh Rektor UTM, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H.

Kepala Klinik Pratama UTM, dr. Farizky Martriano Humardani, M.Biomed., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan Prolanis merupakan bagian dari pengembangan fungsi klinik sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang juga mengedepankan aspek edukasi dan pencegahan penyakit.

Ia menjelaskan, program tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta yang membutuhkan pendampingan pengelolaan penyakit kronis, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengenal pelayanan kesehatan, sistem BPJS Kesehatan, serta komunikasi dengan pasien.

“Kami berharap kegiatan Prolanis dapat dilaksanakan secara rutin setiap bulan. Kolaborasi dengan berbagai pihak juga perlu terus diperkuat agar bersama-sama dapat membangun lingkungan kampus yang lebih sehat, produktif, dan memiliki kepedulian terhadap kesehatan,” ujarnya.

Rektor UTM, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., mengapresiasi inisiatif Klinik Pratama UTM yang telah menghadirkan program tersebut. Menurutnya, kesehatan merupakan aspek penting yang perlu dijaga melalui kesadaran dan tindakan preventif, bukan hanya ketika seseorang telah mengalami gangguan kesehatan.

Ia berharap Prolanis dapat dimanfaatkan oleh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta seluruh sivitas akademika sebagai kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatan masing-masing melalui pemeriksaan secara berkala.

“Melalui program ini, kita dapat melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan penyakit kronis dalam tubuh. Dengan mengetahui kondisi kesehatan lebih awal, kita bisa melakukan langkah pencegahan dan penanganan agar penyakit tidak berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius,” ungkapnya.

Rektor juga menegaskan bahwa Klinik Pratama UTM perlu terus dikembangkan sebagai pusat edukasi kesehatan. Tidak hanya melayani kebutuhan kesehatan warga kampus, klinik diharapkan mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar lingkungan universitas.

Untuk itu, ia mendorong pengelola klinik agar memperluas sosialisasi layanan kesehatan melalui berbagai media komunikasi dan kegiatan edukatif sehingga keberadaan fasilitas kesehatan kampus dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi kesehatan yang disampaikan oleh dr. Eka Sofina Balkis. Dalam materinya, ia mengangkat tema pencegahan komplikasi diabetes melitus dan hipertensi, dua penyakit kronis yang membutuhkan pengawasan serta pengelolaan secara berkelanjutan.

Dr. Eka menjelaskan bahwa diabetes melitus dapat dikenali melalui sejumlah gejala, di antaranya sering merasa haus, mudah lapar, frekuensi buang air kecil meningkat, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, serta luka yang sulit sembuh. Sementara itu, hipertensi kerap tidak menunjukkan gejala khusus sehingga pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi sangat penting.

Ia juga menguraikan berbagai risiko komplikasi yang dapat ditimbulkan apabila kedua penyakit tersebut tidak dikendalikan, seperti gangguan jantung, stroke, kerusakan ginjal, gangguan penglihatan, hingga masalah pada saraf dan anggota tubuh.

Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat dianjurkan menerapkan pola makan bergizi seimbang, memperbanyak konsumsi sayuran, memilih sumber karbohidrat yang lebih sehat, membatasi asupan garam, rutin melakukan aktivitas fisik, menjaga berat badan, serta menghindari rokok.

Selain perubahan pola hidup, penderita diabetes dan hipertensi juga perlu disiplin menjalani pengobatan sesuai resep dokter dan melakukan kontrol kesehatan secara rutin. Pemeriksaan berkala terhadap fungsi ginjal, mata, dan kondisi kaki juga menjadi bagian penting dalam mencegah komplikasi.

Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan peserta yang diawali oleh Rektor UTM. Pemeriksaan tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi program sekaligus upaya mendorong kebiasaan memantau kondisi kesehatan secara berkala.

Melalui pelaksanaan Prolanis, UTM berharap kesadaran menjaga kesehatan semakin tumbuh di lingkungan kampus. Kehadiran program ini sekaligus memperkuat peran Klinik Pratama UTM dalam memberikan pelayanan kesehatan yang mengedepankan pencegahan, edukasi, dan pendampingan, sehingga tercipta sivitas akademika yang sehat dan produktif.

 

Leave a reply