Raker Universitas Trunodjoyo Madura 2026: UTM dan Tantangan Menjadi Kampus Berdampak

3
0
Share:

Ada satu pertanyaan penting yang patut direnungkan setiap kali perguruan tinggi menyelenggarakan rapat kerja yakni setelah seluruh program direncanakan, anggaran disusun, dan indikator kinerja ditetapkan, perubahan nyata apa yang akan dirasakan masyarakat? Pertanyaan itu relevan bagi Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Dalam rapat kerja bertajuk
“Quo Vadis Transformasi UTM: Memperkuat Sinergi, Mewujudkan Kampus Berdampak, dan Meningkatkan Daya Saing Internasional” pada Kamis, 22 Oktober 2026, jajaran pimpinan universitas membahas berbagai agenda strategis yang akan menentukan arah pengembangan kampus pada tahun mendatang. Mulai dari pencapaian indikator kinerja utama, penguatan mutu akademik, peningkatan pendapatan, transformasi digital, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Dalam forum tersebut, terlihat bahwa tantangan UTM tidak sederhana. Universitas dituntut meningkatkan daya saing akademik dan reputasi internasional, sementara pada saat yang sama harus memastikan keberlanjutan keuangan dan kualitas layanan pendidikan. Dua tuntutan itu sesungguhnya tidak perlu dipertentangkan. Kampus yang berdaya saing internasional semestinya juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Persoalannya adalah bagaimana memastikan bahwa setiap program, anggaran, dan keputusan kelembagaan bergerak menuju tujuan yang sama.

Kampus Berdampak

Gagasan kampus berdampak membawa kita pada cara pandang yang lebih luas mengenai keberhasilan perguruan tinggi. Selama ini, keberhasilan kampus kerap dikaitkan dengan jumlah publikasi ilmiah, akreditasi program studi, pemeringkatan universitas, serta banyaknya kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Semua itu penting. Namun, capaian akademik semestinya tidak menjadi tujuan akhir. Penelitian yang baik, misalnya, bukan hanya penelitian yang selesai dilaksanakan atau dipublikasikan dalam jurnal bereputasi. Lebih jauh, hasil penelitian itu perlu menemukan jalan untuk menjawab persoalan masyarakat, memperkuat inovasi, mendukung dunia usaha, atau memberikan alternatif penyelesaian masalah pembangunan daerah.

Demikian pula pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan tersebut tidak cukup diukur dari jumlah program yang terlaksana, tetapi juga dari perubahan yang dihasilkan. Apakah pengetahuan baru benar-benar digunakan? Apakah kapasitas masyarakat meningkat? Apakah ada persoalan lokal yang dapat diselesaikan melalui keterlibatan perguruan tinggi? Bagi UTM, pertanyaan tersebut menjadi penting karena universitas berada di Madura, sebuah wilayah yang memiliki kekhasan sosial, budaya, ekonomi, dan potensi lokal. Kedekatan dengan masyarakat semestinya menjadi keunggulan strategis, bukan sekadar keterangan geografis.

Madura memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat. Potensi itu membutuhkan dukungan pengetahuan, teknologi, inovasi, serta pendampingan yang berkelanjutan. Karena itu, kampus berdampak seharusnya dimulai dari kemampuan universitas membaca persoalan di sekitarnya. Kampus perlu hadir bukan hanya ketika penelitian dilakukan atau program pengabdian dilaksanakan, melainkan juga ketika masyarakat membutuhkan solusi yang dapat diterapkan.

Pemeringkatan Bukan Tujuan Akhir

Dalam rapat kerja tersebut, penguatan reputasi akademik internasional menjadi salah satu agenda yang mendapat perhatian. Target publikasi internasional, publikasi pada jurnal kuartil pertama (Q1), publikasi pada jurnal papan atas, dan riset kolaboratif menjadi bagian dari ukuran kinerja yang perlu ditingkatkan. Pada saat yang sama, UTM mendorong implementasi Outcome-Based Education (OBE), pengembangan kelas internasional, program One Lecturer One Scopus, serta transformasi sistem akademik menuju ekosistem MyUTM.

Berbagai program itu menunjukkan bahwa peningkatan mutu membutuhkan perubahan yang terencana. Namun, ada hal yang perlu dijaga: jangan sampai universitas terlalu sibuk mengejar indikator sehingga kehilangan perhatian terhadap substansi yang hendak dicapai. Pemeringkatan dapat menjadi cermin untuk membaca posisi universitas di antara perguruan tinggi lain. Akan tetapi, cermin bukanlah tujuan perjalanan. Posisi dalam pemeringkatan semestinya menjadi konsekuensi dari peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, tata kelola, dan kontribusi sosial.

Program One Lecturer One Scopus, misalnya, akan lebih bermakna apabila tidak berhenti pada dorongan menghasilkan publikasi. Program itu perlu disertai penguatan kapasitas riset, pendampingan penulisan, kolaborasi lintas disiplin, akses terhadap jejaring akademik internasional, dan kesempatan yang lebih merata bagi dosen untuk mengembangkan kompetensinya. Hal serupa berlaku bagi OBE. Perubahan kurikulum tidak cukup dilakukan melalui penyesuaian dokumen pembelajaran. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa mahasiswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan berpikir yang relevan dengan persoalan kehidupan serta perubahan dunia kerja.

Dengan demikian, orientasi internasional dan orientasi dampak perlu berjalan beriringan. Reputasi global memberikan pengakuan terhadap mutu, sedangkan manfaat nyata bagi masyarakat memberikan makna terhadap keberadaan universitas.

Kemandirian dan Prioritas

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah keberlanjutan keuangan. Sebagai perguruan tinggi negeri berstatus Badan Layanan Umum (PTN-BLU), UTM memiliki fleksibilitas pengelolaan keuangan yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan layanan dan memperkuat kapasitas institusi. Namun, fleksibilitas tersebut juga menuntut kemampuan merancang prioritas dan mengelola sumber daya secara bertanggung jawab.

Dalam rapat kerja, realisasi pendapatan non-UKT per Oktober 2026 tercatat sebesar 7,31 persen, sementara target pada 2027 ditetapkan sebesar 15 persen. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan pendapatan di luar uang kuliah tunggal masih membutuhkan upaya lebih lanjut. Meningkatkan pendapatan tentu penting. Namun, upaya itu perlu dilakukan dengan tetap menjaga misi utama perguruan tinggi sebagai penyelenggara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Universitas dapat mengembangkan layanan profesional, pelatihan, kerja sama riset, konsultasi, pemanfaatan hasil inovasi, dan bentuk kolaborasi produktif lainnya sesuai dengan kompetensi serta ketentuan yang berlaku. Aset dan kepakaran yang dimiliki kampus juga dapat menjadi modal untuk memperluas kemitraan. Yang diperlukan bukan semata-mata menambah kegiatan yang menghasilkan penerimaan, melainkan membangun model pengembangan usaha dan layanan yang berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas akademik.

Dalam kondisi anggaran yang semakin menuntut efisiensi, setiap unit juga perlu memiliki prioritas yang jelas. Program yang dibiayai seharusnya memiliki hubungan langsung dengan target kinerja dan manfaat yang ingin dicapai. Di sinilah pentingnya menyatukan perencanaan strategis, penganggaran, dan evaluasi kinerja. Ukuran keberhasilan bukan sekadar berapa banyak kegiatan dilaksanakan atau berapa besar anggaran terserap, melainkan apa hasil yang diperoleh dan bagaimana hasil tersebut memperkuat kapasitas universitas.

Tata Kelola Yang Memungkinkan Perubahan

Transformasi universitas tidak akan berjalan hanya dengan menetapkan target yang tinggi. Perubahan memerlukan tata kelola yang mampu menghubungkan kebijakan dengan pelaksanaan di tingkat fakultas, program studi, dan unit kerja.

Digitalisasi merupakan salah satu instrumen penting. Rencana pengembangan ekosistem MyUTM, misalnya, membuka peluang untuk mengintegrasikan layanan akademik dan memperkuat pengelolaan data. Namun, keberhasilan digitalisasi tidak semestinya hanya diukur dari tersedianya aplikasi. Sistem digital yang baik harus mampu menyederhanakan prosedur, mengurangi pengulangan pekerjaan administratif, mempercepat layanan, dan menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

Hal yang sama berlaku bagi pengembangan sumber daya manusia. Dosen memerlukan ruang untuk mengembangkan penelitian, meningkatkan kualitas pembelajaran, membangun jejaring internasional, dan menjalankan pengabdian. Tenaga kependidikan juga membutuhkan peningkatan kompetensi agar dapat mendukung pelayanan yang semakin profesional. Karena itu, pengembangan SDM harus memperhatikan pemetaan kompetensi, pembagian beban kerja, kebutuhan organisasi, serta sistem penghargaan yang relevan dengan kinerja. Target institusi akan sulit dicapai apabila tidak didukung oleh sistem kerja yang memungkinkan dosen dan tenaga kependidikan menjalankan perannya secara optimal.

Tata kelola yang baik pada akhirnya bukan sekadar urusan kepatuhan administratif. Tata kelola merupakan cara universitas memastikan bahwa sumber daya yang terbatas digunakan untuk menghasilkan manfaat sebesar-besarnya.

Dari Madura Untuk Dunia

Bagi UTM, tantangan ke depan bukan hanya bagaimana meningkatkan reputasi akademik atau memenuhi target kinerja tahunan. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana menjadikan peningkatan reputasi tersebut sebagai jalan untuk memperkuat kontribusi universitas terhadap masyarakat.

UTM memiliki landasan untuk mengembangkan pendekatan tersebut melalui kekhasan lokal Madura. Pengetahuan dan tradisi masyarakat, potensi ekonomi daerah, persoalan pembangunan, serta kebutuhan industri dapat menjadi sumber inspirasi bagi pendidikan dan penelitian yang relevan. Kekhasan lokal tidak harus menjadi batas bagi internasionalisasi. Sebaliknya, persoalan lokal dapat menjadi pintu masuk untuk menghasilkan pengetahuan yang memiliki relevansi lebih luas apabila dikaji melalui pendekatan ilmiah yang kuat dan dikembangkan melalui kolaborasi.

Universitas tidak harus menjadi unggul dalam segala hal sekaligus. Yang lebih penting adalah menentukan bidang-bidang yang memiliki potensi, membangun keunggulan secara konsisten, dan memastikan hasilnya dirasakan masyarakat. Rapat kerja memang akan menghasilkan dokumen perencanaan, target, dan daftar program. Namun, keberhasilan sesungguhnya baru dapat dinilai ketika semua itu diterjemahkan menjadi perubahan yang nyata.

Pada akhirnya, ukuran kemajuan UTM bukan hanya seberapa tinggi reputasinya di mata dunia, melainkan juga seberapa besar manfaat keberadaannya bagi masyarakat Madura, Indonesia, dan komunitas global.

Kampus yang berdampak adalah kampus yang mampu menghubungkan keunggulan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Dan bagi UTM, perjalanan menuju universitas berdaya saing internasional akan semakin bermakna ketika setiap langkah kemajuannya juga menjadi bagian dari kemajuan Madura.

 

Leave a reply