UTM Perkuat Kolaborasi Pendidikan Manajemen dan Bisnis melalui Kongres APSMBI 2026

1
0
Share:

SURABAYA–BANGKALAN – Penguatan kualitas pendidikan tinggi membutuhkan sinergi antarkampus, inovasi pembelajaran, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Semangat tersebut menjadi salah satu fokus Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) saat menjadi tuan rumah Kongres Aliansi Program Studi Manajemen dan Bisnis Indonesia (APSMBI) 2026 yang diikuti 150 peserta dari 75 perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia pada 19–20 Oktober 2026.

Melalui Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), UTM memanfaatkan forum nasional ini untuk memperluas jejaring akademik, memperkuat tata kelola program studi, serta mendorong pendidikan manajemen dan bisnis yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan pembangunan berkelanjutan.

Kongres hari pertama, Senin (19/10/2026), berlangsung di Harris Hotel & Conventions, Gubeng, Surabaya. Sejumlah agenda dibahas, mulai dari laporan pertanggungjawaban pengurus APSMBI periode 2024–2026, evaluasi program kerja, pemilihan pengurus baru, hingga penetapan arah strategis organisasi ke depan.

Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Koordinator Program Studi S1 Manajemen UTM, Yustina Chrismardani, S.Si., M.M., menyampaikan bahwa kongres menjadi ruang bertemunya pengelola program studi manajemen dan bisnis untuk memperkuat kelembagaan serta menyatukan visi pengembangan pendidikan tinggi.

“ Kongres ini menjadi wadah untuk memperkuat kelembagaan, menyatukan gagasan, dan membangun kolaborasi antarprogram studi manajemen dan bisnis di Indonesia,” ujar Yustina.

Ketua Dewan Pengurus Nasional (DPN) APSMBI periode 2024–2026, Dr. Muhammad Ihsan Hajri, S.T., S.M., M.M., menegaskan bahwa APSMBI memiliki peran lebih luas daripada sekadar organisasi profesi. Aliansi ini menjadi ruang bersama bagi perguruan tinggi untuk saling menguatkan dalam meningkatkan kualitas pendidikan manajemen dan bisnis.

Melalui semangat Unggul Bersama, APSMBI mendorong perguruan tinggi dari berbagai wilayah untuk membangun sinergi, berbagi praktik baik, serta merespons dinamika dan tantangan pendidikan tinggi yang terus berkembang.

Upaya peningkatan mutu tersebut juga mencakup penguatan standar akademik dan tata kelola. Ketua Dewan Pengawas APSMBI, Ulil Hartono, memaparkan sejumlah agenda strategis, di antaranya sertifikasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) melalui SCORSA, pemeringkatan kualitas tata kelola perguruan tinggi, serta standardisasi penghitungan beban satuan kredit semester (SKS).

Langkah tersebut diharapkan menjadi acuan bagi perguruan tinggi anggota APSMBI untuk mengembangkan penyelenggaraan pendidikan manajemen yang lebih terukur, berkualitas, dan berkelanjutan.

Dekan FEB UTM, Prof. Dr. Sutikno, S.E., M.E., mengingatkan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur melalui pencapaian akademik dan akreditasi. Pendidikan tinggi juga harus mampu menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya dalam pengembangan kewirausahaan dan peningkatan daya saing usaha.

Menurutnya, kolaborasi antara UMKM yang baru merintis dan pelaku usaha yang telah berkembang dapat menjadi salah satu strategi untuk memperluas peluang bisnis sekaligus memperkuat ekosistem kewirausahaan.

“Akreditasi unggul wajib diimbangi dengan dampak nyata bagi masyarakat,” tegas Sutikno.

Dari perspektif pembangunan daerah, Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur, Dr. Ramliyanto, S.P., M.P., yang hadir mewakili Gubernur Jawa Timur, menyoroti perlunya pendekatan manajemen yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan strategis.

Ia menilai kolaborasi riset antara perguruan tinggi dan para pemangku kepentingan penting untuk menghasilkan kebijakan pembangunan yang bertumpu pada pengetahuan dan data. Dalam konteks tersebut, Jawa Timur memiliki peluang untuk menjadi living laboratory atau laboratorium hidup bagi pengembangan inovasi yang menjawab kebutuhan pembangunan daerah.

Kepala Jurusan Manajemen FEB UTM, Fathor As, S.E., M.M., menambahkan bahwa penyelenggaraan kongres merupakan kesempatan bagi UTM untuk memperluas kemitraan sekaligus mempertegas peran pendidikan manajemen dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.

“Melalui Kongres APSMBI 2026, kami ingin memperkuat kolaborasi, mendorong inovasi, dan meningkatkan kontribusi program studi manajemen dalam mendukung pencapaian SDGs,” kata Fathor.

Salah satu hasil penting kongres adalah terpilihnya Raditha Dwi Vata Hapsari, S.E., M.M., Ph.D., sebagai Ketua DPN APSMBI periode 2026–2028. Sementara itu, Dr. Ulil Hartono, S.E., M.Si., kembali dipercaya menjadi Dewan Pengawas APSMBI untuk periode yang sama.

Rangkaian Kongres APSMBI 2026 berlanjut pada Selasa (20/10/2026) di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Gedung Graha Utama UTM, Bangkalan. Pada hari kedua, kegiatan diarahkan pada penguatan perspektif internasional, kerja sama lintas perguruan tinggi, dan pemberdayaan pelaku usaha lokal.

Agenda diawali dengan seminar internasional bertajuk “Collaboration, Innovation, and Sustainability: The Role of Management Study Program Alliance in Supporting SDGs to Address Global Challenges”. Seminar ini menghadirkan Prof. Ari Warokka dari Tongmyong University, Korea Selatan, untuk memperkaya wawasan peserta mengenai pentingnya kolaborasi dan inovasi dalam menghadapi tantangan global.

UTM juga menggelar kegiatan International Community Service bertajuk “From Local Strength to Global Competitiveness: Empowering MSMEs through Digital and Financial Transformation”. Program ini melibatkan Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), perguruan tinggi anggota APSMBI, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Madura.

Melalui kegiatan tersebut, perguruan tinggi diharapkan dapat berperan sebagai mitra strategis UMKM dalam meningkatkan kapasitas usaha, memanfaatkan teknologi digital, dan memperkuat pengelolaan keuangan. Dengan demikian, potensi lokal Madura diharapkan mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang lebih kompetitif.

Komitmen kolaborasi diperkuat melalui penandatanganan Implementation Agreement (IA) antara program studi peserta APSMBI 2026 dan UNIMAS, serta nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara UTM dan UNIMAS. Kerja sama ini menjadi landasan untuk mengembangkan berbagai program akademik dan pengabdian kepada masyarakat secara berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan unsur APSMBI, pelaku UMKM, mahasiswa Jurusan Manajemen, serta mahasiswa internasional. Forum ini menjadi ruang diskusi untuk mengidentifikasi peluang kemitraan dan merumuskan strategi pengembangan usaha lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Penyelenggaraan Kongres APSMBI 2026 menegaskan komitmen UTM untuk membangun pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga menghasilkan inovasi dan manfaat sosial-ekonomi. Melalui penguatan jejaring nasional dan internasional, pertukaran pengetahuan, serta kolaborasi dengan dunia usaha, UTM terus mendorong terwujudnya pendidikan manajemen dan bisnis yang berdaya saing sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.

Leave a reply