Wujud Kepedulian Kemanusiaan, UTM Bantu Empat Mahasiswa Terdampak Gempa NTT

2
0
Share:

Bangkalan, 29 Agustus 2026 — Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) menunjukkan kepedulian terhadap mahasiswa yang terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). UTM memberikan bantuan berupa pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama satu semester serta bantuan biaya hidup kepada empat mahasiswa yang teridentifikasi terdampak langsung gempa.

Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Rektor UTM Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H. bersama Ketua Senat UTM Prof. Dr. Mohammad Nizarul Alim, M.Si., Ak., CA dalam rangkaian Wisuda UTM yang digelar di Gedung R.P. Mohammad Noer, Sabtu (29/8/2026).

Keempat mahasiswa penerima bantuan tersebut yakni Yaheskiel Filemon Apiseto asal Kabupaten Ende dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB), Elisabeth Gersela Mbu asal Kabupaten Sikka dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Dian Munawarah asal Kabupaten Ngada dari FISIB, serta Arnira Saputri asal Kabupaten Flores Timur dari Fakultas Hukum.

Rektor UTM Prof. Dr. Safi’ mengatakan pemberian bantuan merupakan bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi untuk hadir dan menunjukkan kepedulian sosial serta kemanusiaan, khususnya kepada mahasiswa UTM yang mengalami dampak langsung bencana.

“Ini bagian dari tanggung jawab kampus sebagai institusi pendidikan yang tentu harus memberikan contoh kepedulian sosial dan kemanusiaan kepada saudara-saudara kita, apalagi mereka adalah mahasiswa kita sendiri,” ujar Prof. Safi’.

Menurutnya, UTM memiliki sekitar 37 mahasiswa yang berasal dari NTT. Namun, berdasarkan hasil verifikasi bagian akademik, terdapat empat mahasiswa yang diketahui mengalami dampak langsung akibat gempa, terutama mereka yang berasal dari wilayah Flores dan sekitarnya.

“Karena NTT itu luas, tidak semua mahasiswa kita terdampak langsung. Setelah dilakukan verifikasi oleh bagian akademik, sementara ini ada empat mahasiswa yang terdampak langsung,” jelasnya.

Sebagai bentuk dukungan, UTM memberikan pembebasan UKT selama satu semester kepada masing-masing mahasiswa. Apabila mahasiswa telah terlanjur membayar UKT untuk semester tersebut, UTM akan menggantinya sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan.

Selain pembebasan UKT, setiap mahasiswa juga mendapatkan bantuan biaya hidup sebesar Rp2 juta. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban mahasiswa selama menjalani perkuliahan di tengah kondisi keluarga yang terdampak bencana.

Prof. Safi’ menegaskan, UTM tetap membuka kemungkinan memberikan kebijakan serupa apabila dalam proses pendataan berikutnya ditemukan mahasiswa lain yang mengalami dampak langsung.

“Kalau nanti ada mahasiswa lain yang terdampak langsung, kita akan berikan kebijakan yang sama. Kita bebaskan UKT-nya dan memberikan tambahan bantuan biaya hidup sesuai kemampuan kampus,” katanya.

Kepedulian UTM terhadap korban gempa NTT tidak berhenti pada pemberian bantuan kepada mahasiswa. Dalam rangkaian wisuda, UTM juga mengangkat semangat “UTM Peduli” sebagai bentuk empati dan solidaritas terhadap masyarakat NTT yang terdampak bencana.

Panitia wisuda mengajak jajaran pimpinan, anggota Senat, sivitas akademika, serta para wisudawan untuk turut berpartisipasi dalam penggalangan donasi bagi korban gempa di NTT.

Penggalangan bantuan tersebut akan berlangsung hingga akhir Agustus 2026. Dana yang terkumpul selanjutnya akan disalurkan melalui TAPUS Maju Selektor PTN Peduli NTT, sebagai bagian dari upaya bersama perguruan tinggi dalam membantu masyarakat terdampak bencana.

Ajakan tersebut menjadi bagian dari pesan kemanusiaan dalam pelaksanaan Wisuda UTM. Kampus tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan akademik, tetapi juga diharapkan mampu hadir ketika masyarakat menghadapi kondisi sulit.

Salah satu mahasiswa penerima bantuan, Yaheskiel Filemon Apiseto, mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan UTM. Mahasiswa asal Kabupaten Ende tersebut mengatakan bantuan kampus membuat dirinya dan mahasiswa NTT lainnya merasa tidak sendirian menghadapi dampak bencana.

“Saya sangat mengapresiasi Universitas Trunodjoyo Madura karena tidak tutup mata terhadap kondisi kami. Kami jadi tidak merasa sendiri. Kami sangat bersyukur karena kampus membantu, baik untuk UKT maupun biaya hidup. Bantuan ini diberikan dengan tulus,” ungkap Yaheskiel.

Ia menceritakan, gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 turut berdampak terhadap kondisi rumah keluarganya. Sejumlah bagian rumah mengalami keretakan, bahkan terdapat bangunan yang nyaris roboh.

Kondisi pascagempa juga diperparah dengan terjadinya longsor dan kerusakan akses jalan akibat kondisi cuaca. Hal tersebut membuat mobilitas masyarakat menjadi terbatas.

“Rumah saya retak, ada juga bagian yang hampir roboh. Karena saat itu masih musim penghujan, gempa juga menyebabkan longsor. Akses jalan sekarang mulai terbatas,” tuturnya.

Rasa trauma akibat gempa juga masih dirasakan keluarganya. Yaheskiel mengatakan orang tuanya memilih tidur di luar rumah karena khawatir terjadi gempa susulan.

“Karena rasa trauma, sampai sekarang mereka masih tidur di luar. Mereka takut terjadi gempa susulan yang lebih besar,” katanya.

Dampak bencana juga berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi keluarganya. Ibunya yang bekerja di toko swalayan , menurut Yaheskiel, mengalami kesulitan untuk bekerja karena akses jalan yang rusak. Sementara ayahnya bekerja sebagai petani.

Di tengah kondisi tersebut, perhatian dari UTM dinilai menjadi dukungan penting bagi mahasiswa terdampak untuk tetap melanjutkan pendidikan.

Yaheskiel juga mengajak sivitas akademika UTM dan mahasiswa lainnya untuk ikut berpartisipasi dalam penggalangan bantuan. Menurutnya, bantuan tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa UTM, tetapi juga masyarakat yang terdampak bencana di wilayah Flores dan NTT secara lebih luas.

“Semoga teman-teman mahasiswa juga ikut berdonasi. Bukan hanya untuk kami, tetapi juga untuk korban yang terdampak di Flores dan daerah lainnya,” ujarnya.

Melalui bantuan pembebasan UKT, dukungan biaya hidup, serta gerakan donasi “UTM Peduli”, UTM menegaskan komitmennya untuk terus membangun ekosistem perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pendidikan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan.

Leave a reply