Mahasiswa PG PAUD FKIP UTM Hadirkan Karya Tari “Permainan Tor Cettor” untuk Melestarikan Permainan Tradisional Madura

1
0
Share:

Bangkalan, 23 Juni 2026 — Gedung Pertemuan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menjadi ruang apresiasi kreativitas mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UTM melalui pagelaran karya tari kreasi anak berjudul “Permainan Tor Cettor”. Karya tersebut dipentaskan sebagai bagian dari ujian Tugas Akhir Karya Produksi Pengganti Skripsi Prodi PG PAUD FKIP UTM.

Karya tari “Permainan Tor Cettor” merupakan hasil penciptaan mahasiswa PG PAUD angkatan 2022, Desty Adelia Rusman, dengan judul karya “Penciptaan Karya Tari Kreasi Anak Berbasis Permainan Tradisional Tor Cettor pada Pendidikan Anak Usia Dini”. Proses penciptaan karya ini dibimbing oleh Angga Fitriyono, S.Pd., M.Pd., serta diuji oleh Fikri Nazarullail, S.Pd., M.Pd. selaku Penguji I dan Sudarsono selaku Penguji II yang juga merupakan Ketua Sanggar Tarara Bangkalan.

Mengusung tema pelestarian budaya lokal, karya tari ini terinspirasi dari permainan tradisional khas Madura bernama Tor Cettor. Permainan berbahan dasar bambu tersebut dahulu menjadi salah satu permainan yang akrab dimainkan anak-anak sebagai sarana hiburan, membangun interaksi sosial, serta mempererat kebersamaan. Namun, perkembangan teknologi dan hadirnya berbagai permainan modern membuat keberadaan permainan tradisional ini semakin jarang ditemukan di kalangan anak-anak.

Melalui karya tari ini, Desty berupaya menghadirkan kembali nilai-nilai permainan tradisional Madura dalam bentuk seni pertunjukan yang sesuai dengan dunia anak usia dini. Aktivitas bermain Tor Cettor kemudian diterjemahkan ke dalam rangkaian gerak tari yang menggambarkan suasana anak-anak saat bermain, mulai dari membawa alat permainan, mengajak teman bermain, memperagakan cara memainkan Tor Cettor, hingga menikmati kebersamaan dalam permainan.

Gerak tari yang diciptakan dirancang sederhana, komunikatif, dan menyesuaikan karakteristik perkembangan anak usia dini. Setiap gerakan tidak hanya mempertimbangkan unsur keindahan, tetapi juga mengandung nilai pembelajaran yang dapat mendukung perkembangan sosial, emosional, kreativitas, serta kemampuan berekspresi anak.

Para penguji memberikan apresiasi terhadap karya “Permainan Tor Cettor” karena dinilai mampu mengangkat kembali kearifan lokal Madura melalui media seni tari. Karya ini tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga membawa pesan edukatif sebagai media pembelajaran budaya dan pembentukan karakter anak sejak usia dini.

Karya tari ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam berbagai kegiatan, seperti pembelajaran di satuan PAUD, pagelaran seni anak, festival budaya, maupun kegiatan apresiasi seni yang mengangkat tema budaya lokal. Sebagai bentuk perlindungan terhadap karya intelektual, tari “Permainan Tor Cettor” juga telah didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) serta dipublikasikan melalui media digital agar dapat dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat secara lebih luas.

Nuansa budaya Madura semakin kuat melalui penggunaan properti utama berupa Tor Cettor berbahan bambu. Properti tersebut tidak hanya menjadi bagian dari pertunjukan, tetapi juga menjadi simbol warisan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya. Kostum penari dengan warna-warna cerah turut memperkuat karakter anak-anak yang aktif, ceria, dan penuh semangat.

Dalam pertunjukannya, karya tari “Permainan Tor Cettor” dibawakan oleh tiga penari anak yang menggambarkan hubungan sosial dalam permainan tradisional. Interaksi antarpemain menyampaikan pesan tentang pentingnya kerja sama, persahabatan, sportivitas, dan kegembiraan dalam bermain. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak usia dini.

“Melalui karya tari ‘Permainan Tor Cettor’, saya ingin memperkenalkan kembali permainan tradisional Madura kepada anak-anak dan masyarakat luas. Saya berharap karya ini dapat menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya lokal sekaligus media pembelajaran yang menyenangkan bagi anak usia dini sehingga permainan tradisional tetap dikenal di tengah perkembangan zaman,” ujar Desty Adelia Rusman.

Pagelaran karya tari ini menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi media efektif untuk menjaga keberlanjutan budaya lokal. Melalui “Permainan Tor Cettor”, mahasiswa PG PAUD FKIP UTM tidak hanya menghadirkan karya seni pertunjukan, tetapi juga membawa pesan penting tentang pelestarian budaya, kreativitas, serta pentingnya mengenalkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi penerus bangsa.

Leave a reply