UTM Perkuat Kajian Akademik, Perjuangkan Raden Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional

1
0
Share:

BANGKALAN – Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) semakin serius mengawal pengusulan Raden Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional. Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), UTM menggelar Seminar Nasional Pengusulan Gelar Kepahlawanan Raden Trunojoyo untuk memperkuat landasan sejarah, akademik, dan hukum dalam proses pengajuan kepada pemerintah.

Seminar yang berlangsung di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Lantai 10 Gedung Graha Utama UTM, Sabtu (7/11/2026), menjadi ruang dialog lintas keilmuan. Sejumlah sejarawan, akademisi, ahli hukum, perwakilan pemerintah daerah, serta unsur Kementerian Sosial RI hadir untuk membedah perjalanan perjuangan Raden Trunojoyo dan kontribusinya dalam sejarah bangsa.

Hadir sebagai narasumber, Direktur Pemberdayaan Potensi dan Sumber Daya Sosial Kementerian Sosial RI, Dr. Salahuddin Yahya, M.Si.; sejarawan H.M. Nasruddin Anshoriy, Ch.; Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Prof. Dr. Purnawan Basundoro, S.S., M.Hum.; akademisi sejarah FIB Unair, Dr. Abimardha Kurniawan, S.Hum., M.A.; serta ahli hukum pidana Fakultas Hukum UTM, Dr. Aris Hardinanto, S.H., M.H. Seminar dimoderatori Achdiar Redy Setiawan, S.E., MSA., Ph.D., Ak., C.A., dan turut dihadiri perwakilan Pemerintah Kabupaten Bangkalan dan Sampang.

Kepala LPPM UTM, Dr. Iskandar Zulkarnain, S.Th.I., M.Si., menyampaikan bahwa seminar ini merupakan bagian dari ikhtiar akademik UTM untuk menghadirkan pengakuan negara terhadap perjuangan Raden Trunojoyo. Menurutnya, Madura memiliki warisan sejarah kepahlawanan yang perlu terus digali, diteliti, dan diperkenalkan sebagai bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia.

Ia menjelaskan, sejumlah referensi telah disiapkan sebagai bahan penyusunan kajian, mulai dari literatur kepahlawanan Trunojoyo yang diterbitkan kementerian terkait hingga manuskrip Babad Trunajaya: Pusaran Kekuasaan dari Tanah Madura yang telah ditetapkan Perpustakaan Nasional RI sebagai Ingatan Kolektif Nasional.

“Ini merupakan agenda besar untuk mengukuhkan UTM sebagai Kampus Para Pahlawan Nasional. Kini saatnya kita melangkah lebih jauh dengan memperjuangkan pengakuan formal gelar Pahlawan Nasional bagi Raden Trunojoyo,” ungkap Iskandar.

Ia menambahkan, seluruh sumber sejarah tersebut akan ditelaah secara mendalam melalui penelitian dan penyusunan naskah akademik. Dengan demikian, usulan yang disiapkan tidak hanya bertumpu pada kebanggaan historis masyarakat Madura, tetapi juga memiliki bukti dan argumentasi ilmiah yang kuat.

Rektor UTM, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., menegaskan bahwa pengusulan gelar Pahlawan Nasional membutuhkan proses panjang dan tahapan yang harus dipenuhi secara sistematis. Seminar menjadi salah satu bagian penting untuk menghimpun pandangan, masukan, sekaligus dukungan dari berbagai kalangan.

Sebagai tindak lanjut, UTM juga merencanakan penyelenggaraan seminar lanjutan di Kabupaten Sampang agar proses pengkajian semakin melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan daerah.

“UTM yang menggunakan nama besar Trunojoyo tentu memiliki tanggung jawab untuk ikut mengawal perjuangan ini. Kami berharap penyusunan dokumen dapat rampung tahun ini, sehingga awal tahun depan dapat diproses melalui TP2GD Provinsi untuk selanjutnya diteruskan ke tingkat pusat,” tutur Safi’.

Ia menyebutkan, pengajuan tersebut ditargetkan dapat disampaikan kepada pemerintah pusat paling lambat April 2027. Menurutnya, perjuangan ini bukan hanya tentang memperoleh gelar kehormatan, melainkan juga membangun kesadaran sejarah dan mewariskan nilai-nilai kepahlawanan kepada generasi muda.

Dari perspektif pemerintah, Dr. Salahuddin Yahya menjelaskan bahwa pengusulan seseorang sebagai Pahlawan Nasional harus memenuhi ketentuan akademik dan administratif. Di antaranya penyusunan naskah akademik, ketersediaan bukti sejarah autentik, serta pelaksanaan seminar sekurang-kurangnya dua kali pada tingkat daerah dan nasional.

Proses pengusulan juga harus ditempuh secara berjenjang, dimulai dari partisipasi masyarakat dan pemerintah daerah, kemudian melalui Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD), sebelum diteruskan kepada tim di tingkat pusat untuk dilakukan penilaian dan selanjutnya ditetapkan oleh Presiden.

“Pengusulan Pahlawan Nasional memerlukan penyusunan naskah akademik serta minimal dua kali seminar, yaitu di tingkat lokal dan tingkat nasional,” jelas Salahuddin.

Ia juga mengajak masyarakat Madura, terutama kalangan generasi muda, untuk lebih mengenal perjalanan sejarah Raden Trunojoyo. Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah tokoh bangsa dapat menjadi sarana menumbuhkan nasionalisme dan kebanggaan terhadap identitas Indonesia.

“Masyarakat Madura dan generasi muda perlu melek sejarah serta meneladani perjuangan Raden Trunojoyo sebagai wujud loyalitas dan kebanggaan terhadap nasionalisme Indonesia,” tambahnya.

Pembahasan seminar berlangsung melalui sejumlah perspektif yang saling melengkapi. Salahuddin mengangkat tema Raden Trunojoyo: Perlawanan di Madura dan Jawa dalam Krisis Mataram Abad ke-17. Sementara itu, Prof. Purnawan Basundoro mengulas Perlawanan Trunajaya terhadap VOC, dan Dr. Abimardha Kurniawan membahas Pemberontak atau Pahlawan? Penokohan Trunajaya dalam Teks Babad.

Adapun Dr. Aris Hardinanto memaparkan kajian berjudul Pemenuhan Kualifikasi Yuridis Pengusulan Raden Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional. Pembahasan tersebut memberikan perspektif mengenai bagaimana perjuangan Raden Trunojoyo dapat ditempatkan secara proporsional dalam konteks sejarah sekaligus memenuhi ketentuan hukum yang berlaku.

Bagi UTM, upaya mengusulkan Raden Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional merupakan bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam menjaga warisan sejarah dan mengembangkan pengetahuan berbasis kearifan lokal. Pengakuan terhadap tokoh sejarah Madura diharapkan dapat memperkaya narasi kepahlawanan nasional sekaligus memperkuat identitas masyarakat.

Melalui forum akademik ini, UTM berkomitmen melanjutkan penelitian, memperkuat dokumentasi sejarah, dan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak. UTM berharap perjuangan Raden Trunojoyo mendapatkan tempat yang semestinya dalam sejarah nasional, sehingga nilai keberanian, perjuangan, dan kecintaannya terhadap tanah air dapat terus menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

Leave a reply