Kuliah Umum PSDA UTM Dorong Riset Berbasis Bukti dan Hilirisasi Inovasi

BANGKALAN, 12 September 2026 — Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSDA) Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) memperkuat wawasan mahasiswa dan sivitas akademika mengenai arah kebijakan riset daerah melalui kuliah umum bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Timur.
Kuliah umum menghadirkan Darmawan Soecahyo, S.Pi., M.Si., dari BRIDA Provinsi Jawa Timur sebagai narasumber. Mengangkat tema “Arah Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Jawa Timur”, kegiatan tersebut membahas pentingnya riset sebagai landasan dalam penyusunan kebijakan publik sekaligus mendorong hasil penelitian agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam paparannya, Darmawan menjelaskan posisi strategis BRIDA Jatim dalam membangun ekosistem riset dan inovasi daerah. BRIDA tidak hanya berperan dalam pengembangan riset pemerintah daerah, tetapi juga menjadi penghubung antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat agar hasil kajian akademik dapat menjawab kebutuhan pembangunan.
Menurutnya, penerapan evidence-based policy menjadi bagian penting dalam mewujudkan birokrasi yang lebih efektif dan responsif. Karena itu, penelitian perlu diarahkan untuk menghasilkan data, rekomendasi, dan inovasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Riset jangan berhenti di repositori atau publikasi jurnal. Hasil penelitian harus dihilirisasi menjadi rekomendasi kebijakan maupun solusi yang dapat diterapkan,” ujar Darmawan.
Ia memaparkan lima bidang prioritas riset Jawa Timur, yakni agro dan pangan; kesehatan dan obat-obatan; industri dan energi hijau; maritim dan lingkungan hidup; serta sosial, budaya, dan ekonomi inklusif.
Sektor agro, pangan, dan ekosistem halal mendapat porsi prioritas terbesar, yakni 40 persen. Fokus tersebut sejalan dengan posisi Jawa Timur sebagai salah satu pusat produksi pangan nasional sekaligus daerah dengan kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia.
Sejumlah persoalan strategis juga menjadi perhatian dalam agenda riset daerah, antara lain pengembangan benih unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), mitigasi bencana di kawasan pesisir, serta pengembangan energi hijau yang memanfaatkan potensi lokal.
Darmawan juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan helix model. Dalam model tersebut, perguruan tinggi memiliki peran sebesar 40 persen, pemerintah daerah 30 persen, industri 18 persen, serta komunitas dan NGO 12 persen.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat proses hilirisasi hasil penelitian, mulai dari pengembangan pengetahuan, fasilitasi regulasi, hingga pemanfaatan inovasi oleh masyarakat dan dunia industri.
“Ukuran keberhasilan inovasi bukan hanya jumlah publikasi, tetapi sejauh mana hasil riset mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membuat birokrasi lebih efisien,” jelasnya.
Koordinator Program Studi S2 PSDA, Dr. Teti Sugiarti, M.Si., menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan BRIDA Jatim memberikan perspektif baru bagi mahasiswa dan dosen mengenai pentingnya membangun keterhubungan antara penelitian di perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Ia berharap sinergi antara PSDA UTM dan BRIDA Jatim dapat terus dikembangkan sehingga berbagai hasil penelitian dosen maupun mahasiswa tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat diimplementasikan untuk menjawab persoalan sumber daya alam dan lingkungan di Jawa Timur.
Sementara itu, mahasiswa S3 PSDA, Novi Diana Badrut Tamam, S.P., M.Si., menilai kuliah umum tersebut memberikan wawasan penting bagi mahasiswa doktoral dalam menentukan arah penelitian.
“Materi ini membuka wawasan kami untuk memetakan penelitian disertasi agar lebih relevan, inovatif, dan responsif terhadap persoalan lingkungan serta sumber daya alam di Jawa Timur,” ungkapnya.
Melalui kegiatan tersebut, PSDA UTM menegaskan komitmennya untuk memperkuat budaya riset yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghasilkan inovasi yang dapat diimplementasikan dan memberikan dampak bagi pembangunan daerah.