Dari Malaysia, FKIP UTM Tanamkan Semangat Bermimpi bagi Anak-Anak Indonesia

MALAYSIA, 9 September 2026 — Jarak Indonesia dan Malaysia tidak menghalangi Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) untuk menghadirkan ruang belajar bagi anak-anak Indonesia. Melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), UTM menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bersama anak-anak imigran Indonesia di Malaysia.
Mengangkat tema “Aku Anak Indonesia: Petualang Meraih Mimpi”, kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan aktivitas pembelajaran. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya menumbuhkan rasa percaya diri, karakter, serta keberanian anak-anak untuk mengenali potensi dan membangun cita-cita mereka.
Lima program studi di lingkungan FKIP UTM terlibat dalam kegiatan tersebut, yakni Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Pendidikan Informatika, Pendidikan IPA, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, serta Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
Keterlibatan lintas program studi membuat kegiatan dikemas dengan pendekatan yang beragam. Anak-anak diajak belajar melalui aktivitas yang kreatif, edukatif, dan dekat dengan kehidupan mereka. Pada saat yang sama, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan sekaligus belajar memahami persoalan pendidikan secara langsung di tengah masyarakat.
Wakil Dekan Bidang Akademik FKIP UTM, Siti Fadjryana Fitroh, S.Psi., M.A., mengatakan kegiatan tersebut menjadi pengalaman penting bagi dosen maupun mahasiswa.
Menurutnya, pengabdian kepada masyarakat tidak seharusnya berhenti pada pemenuhan kewajiban tridarma perguruan tinggi. Perguruan tinggi perlu hadir dengan memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Kegiatan ini menjadi pengalaman berbagi yang sangat berharga bersama adik-adik imigran. Bagi dosen, ini merupakan bentuk inisiatif akademik untuk menghadirkan solusi pendidikan. Bagi mahasiswa, ini menjadi pengalaman belajar yang tidak diperoleh hanya melalui ruang kelas,” tuturnya.
Ia berharap pertemuan dan kolaborasi yang terbangun melalui kegiatan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang lebih panjang. FKIP UTM membuka peluang pengembangan penelitian bersama, pengabdian berkelanjutan, hingga penulisan buku yang melibatkan dosen dan para pengajar anak-anak imigran di Malaysia.
“Ke depan, kami berharap dapat mengembangkan kolaborasi penelitian, pengabdian, penulisan buku bersama dosen dan pengajar anak imigran di Malaysia, serta membuka peluang KKN Internasional bagi mahasiswa FKIP UTM,” tambahnya.
Sementara itu, Cekgu Wiffy Zalina Putri menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai kehadiran dosen dan mahasiswa FKIP UTM memberikan pengalaman belajar yang berbeda sekaligus menghadirkan perhatian terhadap kebutuhan pendidikan anak-anak imigran.
“Kegiatan ini luar biasa, memberikan rasa peduli dan mengajak adik-adik untuk banyak belajar. Kami berharap anak-anak imigran mendapatkan pendidikan yang layak sehingga dapat memiliki kesempatan untuk mengubah masa depan mereka menjadi lebih baik,” ujarnya.
Bagi FKIP UTM, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menerjemahkan semangat Kampus Berdampak ke dalam aksi nyata. Kampus tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pendidikan, tetapi juga ruang untuk berbagi pengetahuan, membangun kepedulian, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.
Keberadaan anak-anak Indonesia di Malaysia menjadi pengingat bahwa pendidikan memiliki tantangan yang melampaui batas wilayah. Karena itu, diperlukan keterlibatan berbagai pihak untuk memastikan anak-anak tetap memiliki ruang untuk belajar, berkembang, dan merencanakan masa depan.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pengajar, mahasiswa, komunitas, diaspora, dan berbagai pihak lainnya, FKIP UTM berharap semakin banyak ruang belajar dapat hadir bagi anak-anak Indonesia di luar negeri.
Pada akhirnya, “Aku Anak Indonesia: Petualang Meraih Mimpi” bukan hanya sebuah tema kegiatan. Ia menjadi pesan bahwa setiap anak memiliki hak untuk belajar dan memiliki cita-cita.
Dari ruang belajar di Malaysia, FKIP UTM ingin menegaskan bahwa mimpi anak-anak Indonesia tidak mengenal batas negara.