UTM Siapkan Mahasiswa Jadi Eksportir Muda melalui Program Pelatihan dan Inkubasi Ekspor

Bangkalan, 11 Agustus 2026 — Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) terus memperkuat ekosistem kewirausahaan berbasis riset dan inovasi melalui Program Pelatihan dan Inkubasi Ekspor bagi mahasiswa. Program yang digagas Badan Pengelola Usaha (BPU) bersama Teaching Industry LPPM UTM tersebut menjadi langkah strategis untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dalam mengembangkan produk lokal menuju pasar internasional.
Program ini telah dimulai sejak 6 Juni 2026 dan dirancang tidak sekadar memberikan pemahaman teoritis mengenai ekspor, tetapi juga menghadirkan pengalaman praktik bisnis secara langsung. Mahasiswa mendapatkan pendampingan mulai dari memahami fundamental perdagangan internasional, menyusun strategi pasar, menghitung harga ekspor, hingga melakukan simulasi transaksi dan mencari calon buyer dari berbagai negara.
Dua kelompok mahasiswa menjadi peserta utama dalam program ini, yakni Tim Garuda Ekspor dan Tim Nusantara Ekspor. Keduanya mengembangkan produk unggulan hasil riset dan inovasi Teaching Industry LPPM UTM yang berbasis pada potensi sumber daya lokal.
Tim Garuda Ekspor mengembangkan produk minyak atsiri (essential oil) dari bahan-bahan alami, sedangkan Tim Nusantara Ekspor mengembangkan briket arang tempurung kelapa (coconut shell charcoal briquettes). Kedua produk tersebut dikembangkan sebagai bagian dari Teaching Industry UTM sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman secara utuh, mulai dari proses pengembangan produk hingga bagaimana produk tersebut dipersiapkan untuk memasuki pasar global.
Direktur Badan Pengelola Usaha UTM, Faidal, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari langkah strategis universitas dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang mampu melahirkan eksportir muda dari kalangan mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman langsung agar mampu melihat potensi produk lokal tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari perspektif bisnis dan peluang pasar internasional.
“Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang ekspor, tetapi juga mempraktikkan secara langsung bagaimana membangun perusahaan, menyusun strategi pasar internasional, menghitung harga ekspor, hingga melakukan komunikasi dengan calon pembeli di luar negeri,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Direktur Pemasaran Produk BPU UTM, Moh. Reza Adiyanto, menjelaskan bahwa program inkubasi ekspor dilaksanakan melalui sejumlah tahapan intensif dengan sistem pendampingan. Dalam pelaksanaannya, BPU UTM menggandeng ekspor.id, komunitas edukasi, pelatihan, dan akselerasi ekspor bagi pelaku usaha di Indonesia.
Program tersebut juga mendapatkan dukungan dari Uruzin Solusi Bisnis sebagai perusahaan konsultan perizinan usaha. Dukungan tersebut turut membantu proses pendirian badan usaha yang menaungi masing-masing tim, yakni PT Arsyira Aroma Creatif untuk Tim Garuda Ekspor dan PT Sumber Energi Indonesia untuk Tim Nusantara Ekspor.
Pendampingan tersebut memberikan pengalaman kepada mahasiswa mengenai bagaimana membangun fondasi sebuah perusahaan yang berorientasi ekspor. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memiliki produk, tetapi juga memahami aspek legalitas, pemasaran, perdagangan internasional, hingga pengelolaan hubungan dengan calon buyer.
Berbagai materi diberikan selama program, di antaranya pemahaman HS Code, Incoterms 2020, dokumen ekspor, payment terms, simulasi harga EXW–FOB–CIF, strategi riset pasar, identifikasi buyer internasional, penyusunan company profile dan katalog produk, serta pengelolaan Customer Relationship Management (CRM).
Setiap tim juga diwajibkan menyusun action plan ekspor dan melakukan presentasi akhir sebagai bentuk evaluasi terhadap kesiapan mereka dalam memasuki pasar internasional.
Garuda Ekspor Siapkan Essential Oil untuk Pasar Global
Dalam program tersebut, Tim Garuda Ekspor memperkenalkan sejumlah produk minyak atsiri, di antaranya Lemongrass Essential Oil, Patchouli Essential Oil, dan Green Tea Essential Oil.
Produk tersebut diposisikan sebagai bahan baku untuk berbagai kebutuhan industri, seperti aromaterapi, parfum, kosmetik, hingga produk perawatan pribadi. Pengembangan produk juga diarahkan dengan pendekatan produksi yang berkelanjutan sehingga memiliki nilai tambah sekaligus daya saing di pasar global.
Untuk mendukung kesiapan ekspor, mahasiswa menyusun company profile dalam bahasa Inggris, katalog produk, serta melakukan simulasi proses perdagangan menggunakan standar internasional.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memperkenalkan produk kepada calon buyer sekaligus membangun citra perusahaan yang profesional di pasar internasional.
Sementara itu, Tim Nusantara Ekspor mengembangkan coconut shell charcoal briquettes sebagai komoditas energi ramah lingkungan yang memiliki potensi pasar ekspor.
Produk berbahan dasar tempurung kelapa tersebut diarahkan untuk menjangkau sejumlah pasar internasional, antara lain Belanda, Amerika Serikat, dan Australia.
Dalam proses inkubasi, mahasiswa menyusun spesifikasi teknis produk, mempelajari persyaratan ekspor, menyiapkan berbagai dokumen pendukung, serta membuat draft korespondensi bisnis dengan calon buyer internasional.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami karakteristik produk, tetapi juga belajar bagaimana menerjemahkan keunggulan produk menjadi penawaran bisnis yang dapat diterima oleh pasar internasional.
Salah satu aspek penting dalam program tersebut adalah pembagian tugas profesional di dalam masing-masing tim. Setiap kelompok terdiri atas tiga mahasiswa dengan tanggung jawab yang berbeda.
Pembagian tersebut meliputi bidang HS Code dan simulasi harga, riset pasar dan pencarian buyer, serta company profile, katalog, dan website promosi.
Pola kerja tersebut memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa mengenai bagaimana sebuah perusahaan ekspor menjalankan aktivitasnya secara kolaboratif. Mahasiswa dituntut tidak hanya menguasai bidangnya masing-masing, tetapi juga mampu berkoordinasi untuk menghasilkan strategi ekspor yang terintegrasi.
Selama dua minggu pendampingan intensif, kedua tim berhasil menyelesaikan sejumlah output penting. Di antaranya menentukan negara tujuan ekspor, mengidentifikasi sedikitnya 10 calon buyer internasional, menyusun company profile dan katalog produk, melakukan simulasi harga ekspor FOB dan CIF, serta menyusun strategi komunikasi bisnis dengan calon importir.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan telah bergerak dari sekadar pemahaman konseptual menuju praktik bisnis yang lebih nyata.
BPU UTM berharap Program Pelatihan dan Inkubasi Ekspor dapat menjadi fondasi awal bagi lahirnya Export Youthpreneur di lingkungan Universitas Trunojoyo Madura.
Melalui integrasi antara pembelajaran akademik, Teaching Industry, hasil riset dan inovasi, serta pendampingan praktisi bisnis, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan yang lebih lengkap dalam mengembangkan usaha.
Mahasiswa tidak hanya ditargetkan mampu menghasilkan produk inovatif, tetapi juga memiliki keberanian dan kompetensi untuk membangun perusahaan, membaca peluang pasar, menemukan buyer, melakukan negosiasi, serta memperluas pemasaran hingga tingkat internasional.
Kepala LPPM UTM, Iskandar Dzulkarnain, menilai Program Pelatihan dan Inkubasi Ekspor menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, unit usaha universitas, hasil riset dan inovasi Teaching Industry LPPM UTM, serta praktisi ekspor dapat menghadirkan model pembelajaran yang aplikatif dan memberikan dampak nyata.
Menurutnya, Teaching Industry tidak berhenti pada proses menghasilkan produk, tetapi juga harus mampu mendorong produk tersebut memiliki nilai ekonomi dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Melalui inisiatif BPU dan Teaching Industry LPPM UTM, produk essential oil dan briket arang tempurung kelapa kini dipersiapkan bukan hanya sebagai produk berbasis potensi lokal, tetapi sebagai komoditas yang memiliki peluang untuk bersaing di pasar global.
Program tersebut sekaligus mempertegas komitmen UTM dalam menghubungkan riset, inovasi, kewirausahaan, dan kebutuhan industri, sehingga mahasiswa memiliki pengalaman nyata untuk menjadi generasi muda yang produktif, inovatif, dan berorientasi pada pasar internasional.