Ziarah Spiritual Warnai Dies Natalis ke-25 UTM, Perkuat Ikatan Sejarah dengan Tebuireng dan Gus Dur

Bangkalan–Jombang, 3 Juli 2026 – Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) mengawali rangkaian peringatan Dies Natalis ke-25 dengan menggelar ziarah spiritual ke sejumlah tokoh ulama dan bangsa yang memiliki hubungan historis dengan perjalanan kampus. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (3/7) ini diikuti oleh jajaran pimpinan universitas, mulai dari rektor, wakil rektor, para dekan, dan kepala biro.
Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam Syaikhona Muhammad Kholil di Bangkalan, dilanjutkan dengan silaturahmi ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, serta diakhiri dengan ziarah ke makam Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Kegiatan tersebut menjadi agenda rutin yang selalu mengawali peringatan Dies Natalis UTM sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan kepada para ulama yang memiliki kontribusi besar terhadap perjalanan dan perkembangan Universitas Trunojoyo Madura.
Rektor UTM, Prof. Dr. Safi’, menjelaskan bahwa rangkaian ziarah ini bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi memiliki makna historis dan spiritual yang sangat mendalam bagi sivitas akademika UTM.
Menurutnya, keberadaan UTM sebagai perguruan tinggi negeri tidak dapat dilepaskan dari peran besar KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang pada masa pemerintahannya memberikan dukungan terhadap proses penegerian Universitas Trunojoyo Madura.
“UTM memperoleh banyak keberkahan dari para ulama, khususnya dari keluarga besar Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Salah satu tokoh yang memiliki jasa besar adalah KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang berperan dalam proses penegerian kampus ini. Karena itu, setiap peringatan hari lahir UTM kami selalu memasukkan agenda silaturahmi dan ziarah sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan rasa syukur,” ujar Prof. Safi’.
Ia menambahkan, selain menjaga ikatan batin dan spiritual dengan para ulama, UTM juga berharap hubungan tersebut berkembang menjadi kerja sama kelembagaan yang lebih konkret.
Dalam kunjungan ke Pondok Pesantren Tebuireng, rombongan UTM disambut hangat oleh pengasuh pesantren KH. Abdul Hakim Mahfud ( Gus Kikin) beserta jajaran pengelola lembaga pendidikan di bawah naungannya. Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk membahas peluang kolaborasi antara UTM dengan Pondok Pesantren Tebuireng dalam bidang pendidikan, penelitian, hingga pengembangan sumber daya manusia.
“Harapan kami tidak hanya sebatas menjaga ikatan kebatinan, tetapi juga membangun ikatan formal melalui kerja sama kelembagaan antara Universitas Trunojoyo Madura dengan Pondok Pesantren Tebuireng beserta unit-unit pendidikannya. Alhamdulillah, gagasan tersebut mendapatkan respons yang sangat baik dari para kiai dan pimpinan lembaga pendidikan di Tebuireng,” katanya.
Menurut Prof. Safi’, sambutan hangat yang diberikan keluarga besar Tebuireng menjadi bukti eratnya hubungan historis yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Ia menegaskan bahwa silaturahmi tersebut dilakukan tanpa membedakan siapa pun dari keluarga besar pesantren, melainkan sebagai upaya menjaga kesinambungan hubungan keilmuan dan persaudaraan.
“Yang kami jaga adalah agar ikatan silaturahmi ini tidak pernah terputus. Sanad keilmuan yang diwariskan para ulama harus tetap tersambung kepada generasi berikutnya. Karena itu, setiap tahun kami selalu datang bersilaturahmi dan berziarah ke makam Mbah Hasyim, Gus Dur, serta para dzurriyah lainnya,” ungkapnya.
Selain mempererat hubungan kelembagaan, kunjungan tersebut juga membuka peluang kerja sama akademik. Salah satunya adalah rencana peluncuran buku hasil disertasi yang ditulis oleh Nyai Hj. Lelly Lailiyah di Universitas Trunojoyo Madura. Buku tersebut mengangkat kajian mengenai pondok pesantren sebagai bagian dari khazanah keilmuan Nahdlatul Ulama.
Rektor berharap kolaborasi semacam itu dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pesantren dalam mengembangkan pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan keilmuan.
Prof. Syafi’ mengungkapkan bahwa tradisi berziarah ke Tebuireng telah menjadi agenda rutin UTM selama bertahun-tahun. Setidaknya dalam 15 tahun terakhir, kegiatan tersebut selalu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis universitas.
“Ini merupakan tradisi yang terus kami jaga. Setiap momentum hari lahir UTM, kami menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke Tebuireng. Bagi kami, menjaga hubungan dengan para ulama merupakan bagian dari menjaga sejarah dan jati diri Universitas Trunojoyo Madura,” tuturnya.
Dies Natalis UTM sendiri diperingati setiap tanggal 5 Juli, bertepatan dengan tanggal berdirinya Universitas Trunojoyo Madura pada 5 Juli 2001. Namun, pada tahun ini rangkaian kegiatan dimajukan menjadi 3 Juli karena tanggal 5 Juli bertepatan dengan hari Minggu, sehingga diharapkan tidak mengganggu aktivitas sivitas akademika maupun kegiatan di Pondok Pesantren Tebuireng.
Melalui kegiatan ziarah dan silaturahmi tersebut, UTM menegaskan komitmennya untuk tidak hanya membangun keunggulan akademik, tetapi juga menjaga nilai-nilai spiritual, menghormati jasa para ulama, serta memperkuat jejaring kemitraan dengan lembaga pendidikan Islam sebagai fondasi dalam membangun perguruan tinggi yang unggul, berkarakter, dan berdampak bagi masyarakat.