Kreativitas Mahasiswa PGSD FKIP UTM Melalui Tari “Ti Jatian”, Padukan Seni, Pendidikan, dan Kearifan Lokal

5
0
Share:

Bangkalan, 23 Juni 2026 — Kreativitas mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) kembali diwujudkan melalui sebuah karya seni pertunjukan. Melalui pagelaran karya tari kreasi berjudul “Ti Jatian”, mahasiswa PGSD angkatan 2022, Tri Puspita Agustina, menghadirkan karya tari yang mengangkat keceriaan dunia anak sekaligus memperkenalkan kearifan lokal Kabupaten Bojonegoro sebagai salah satu daerah penghasil kayu jati di Indonesia.

Pagelaran yang berlangsung pada 23 Juni 2026 di Gedung Pertemuan tersebut merupakan bagian dari Tugas Akhir Karya Produksi sebagai pengganti skripsi bagi mahasiswa Program Studi PGSD FKIP UTM. Karya ini dikoreografikan oleh Tri Puspita Agustina dengan bimbingan Parrisca Indra Perdana, S.Pd., M.Pd. Sementara proses penilaian dilakukan oleh tim penguji, yakniAngga Fitriyono, S.Pd., M.Pd. sebagai penguji 1 dan Nova Estu Harsiwi, S.Pd., M.Pd. sebagai penguji 2.

Karya tari “Ti Jatian” terinspirasi dari identitas Kabupaten Bojonegoro yang memiliki keterikatan kuat dengan pohon jati. Melalui pendekatan tari anak-anak, karya ini mencoba menerjemahkan karakter pohon jati yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bojonegoro ke dalam bentuk gerak yang sederhana, ceria, dan mudah dipahami.

Nama “Ti Jatian” sendiri berasal dari pengulangan kata “ti” yang memiliki karakter mudah diingat dan diucapkan oleh anak-anak. Pemilihan nama tersebut disesuaikan dengan konsep karya yang ingin menghadirkan suasana dunia anak, penuh spontanitas, keceriaan, serta permainan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam pertunjukannya, “Ti Jatian” menggambarkan kisah kehidupan anak-anak yang bermain bersama di halaman rumah. Aktivitas bermain tersebut tidak hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga memperlihatkan berbagai dinamika sosial, mulai dari kebersamaan, perbedaan pendapat, hingga konflik kecil antarteman. Namun, melalui sikap saling memahami dan mendamaikan, permainan kembali berlangsung dalam suasana harmonis.

Melalui alur sederhana tersebut, karya ini menyampaikan pesan tentang pentingnya nilai persahabatan, kebersamaan, serta sikap saling menghargai yang perlu ditanamkan sejak usia dini. Tari ini tidak hanya menjadi sebuah pertunjukan seni, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter melalui bahasa gerak.

Dari sisi visual, karya “Ti Jatian” diperkuat dengan penggunaan kostum berwarna hijau yang terinspirasi dari daun jati. Pemilihan warna tersebut menjadi simbol kedekatan karya dengan alam dan identitas Bojonegoro. Gerakan tari yang dirancang sederhana juga memperkuat karakter anak-anak yang aktif, ceria, dan penuh energi.

Tri Puspita menghadirkan tiga orang penari dalam karya tersebut. Jumlah tiga penari memiliki makna filosofis berupa konsep tripartit, yaitu keseimbangan yang terdiri atas tahap awal, proses, dan akhir. Dalam konteks “Ti Jatian”, konsep tersebut menggambarkan perjalanan anak-anak dalam bermain, dimulai dari awal kebersamaan, proses bermain dengan berbagai pengalaman, hingga berakhir pada terciptanya keharmonisan.

Menurut Tri Puspita Agustina, karya ini tidak hanya menjadi bentuk ekspresi seni, tetapi juga memiliki tujuan untuk mengenalkan potensi dan identitas daerah melalui media tari.

“Melalui ‘Ti Jatian’, kami ingin menghadirkan kenangan dan nilai-nilai positif yang tumbuh dalam permainan anak-anak, sekaligus memperkenalkan identitas Bojonegoro sebagai daerah yang lekat dengan pohon jati. Karya ini menjadi ruang untuk menumbuhkan semangat kebersamaan dan persahabatan melalui bahasa gerak tari,” ujar Tri Puspita.

Dalam proses ujian karya, para penguji memberikan apresiasi terhadap ide dan konsep yang diangkat. Karya tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah sebagai media pembelajaran seni budaya, kegiatan lomba tari, maupun pertunjukan pada berbagai kegiatan sekolah.

Selain dipentaskan secara langsung, karya tari “Ti Jatian” juga telah dipublikasikan melalui platform YouTube serta didaftarkan dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bentuk perlindungan terhadap karya kreatif mahasiswa.

Meski demikian, tim penguji memberikan sejumlah catatan pengembangan agar karya ini semakin kuat sebagai representasi budaya daerah. Salah satu masukan yang diberikan adalah perlunya memperkuat unsur keabsahan ragam gerak khas Bojonegoro agar identitas lokal semakin terlihat dalam karya tari tersebut. Selain itu, penyebarluasan karya juga menjadi bagian penting agar tujuan awal koreografer menjadikan tari ini sebagai media promosi budaya dapat tercapai lebih luas.

Ke depan, karya “Ti Jatian” diharapkan tidak hanya berhenti sebagai tugas akhir mahasiswa, tetapi dapat berkembang menjadi karya seni edukatif yang memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam mengenalkan nilai budaya lokal kepada generasi muda.

Pagelaran ini menjadi bukti bahwa karya akademik mahasiswa tidak hanya dapat diwujudkan dalam bentuk tulisan ilmiah, tetapi juga melalui karya kreatif yang memiliki nilai edukasi, budaya, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Melalui “Ti Jatian”, PGSD FKIP UTM menunjukkan bahwa seni tari dapat menjadi jembatan untuk mengenalkan kearifan lokal sekaligus menanamkan nilai karakter melalui cara yang menyenangkan dan komunikatif.

Leave a reply