Himpun 500 Buku Lebih, Kolaborasi KKNT UTM dan Siswa SMAN 11 Surabaya Dukung Pendidikan Anak di Bangkalan

3
0
Share:

BANGKALAN – Kepedulian terhadap pendidikan tak cukup berhenti pada diskusi di ruang kelas. Semangat itulah yang diwujudkan melalui kolaborasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) bersama siswa kelas XII SMA Negeri 11 Surabaya dengan menghimpun lebih dari 500 buku dan berbagai perlengkapan sekolah untuk mendukung pendidikan anak-anak di Desa Banyoneng Laok, Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan.

Aksi solidaritas yang dilaksanakan pada 12 Oktober 2026 tersebut menjadi bagian dari Ujian Praktik (UPRA) mata pelajaran Sosiologi di SMA Negeri 11 Surabaya. Mengangkat persoalan ketimpangan akses dan keberlanjutan pendidikan menengah, kegiatan ini mengajak siswa memahami bahwa kesempatan belajar tidak selalu dimiliki setiap anak dalam kondisi yang sama.

Bantuan yang dihimpun meliputi buku, alat tulis kantor (ATK), seragam sekolah, tas, serta berbagai kebutuhan pendidikan lainnya. Seluruh bantuan direncanakan untuk menunjang operasional Pojok Literasi Banyoneng Laok, yang diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus sumber pengetahuan bagi anak-anak di desa tersebut.

Lebih dari sekadar mengumpulkan donasi, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara pembelajaran akademik dan persoalan sosial yang nyata. Siswa diajak memahami bahwa keberlanjutan pendidikan dipengaruhi oleh beragam faktor, mulai dari kondisi geografis, ketersediaan sarana belajar, hingga kemampuan ekonomi keluarga.

Pengajar Sosiologi SMA Negeri 11 Surabaya, Dina Amaliya, S.Sos., mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar siswa mampu menghubungkan teori yang dipelajari di sekolah dengan realitas kehidupan masyarakat.

“Melalui Ujian Praktik Sosiologi, siswa didorong untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dalam memahami persoalan sosial di lingkungan masyarakat. Kami berharap kegiatan ini menumbuhkan kepedulian terhadap anak-anak yang memiliki keterbatasan dalam memperoleh pendidikan, sekaligus membangun kesadaran bahwa keberlanjutan sekolah membutuhkan dukungan bersama,” tutur Dina.

Menurutnya, pembelajaran tidak semestinya hanya berorientasi pada capaian akademik dan penilaian. Pengalaman terlibat dalam kegiatan sosial juga penting untuk membentuk kepekaan, empati, dan tanggung jawab siswa terhadap lingkungan sekitarnya.

Dukungan terhadap kolaborasi ini juga disampaikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Masyarakat SMA Negeri 11 Surabaya, Istyawati, S.Pd. Ia menilai kemitraan dengan UTM membuka kesempatan bagi kedua institusi untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

“Kami menyambut baik kerja sama yang terjalin antara kedua institusi ini. Kemitraan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari proses pembelajaran siswa, tetapi juga mendorong tumbuhnya perhatian terhadap berbagai tantangan pendidikan yang dihadapi masyarakat. Kami berharap hubungan baik ini terus diperkuat melalui kegiatan bersama yang berkesinambungan,” ujarnya.

Bagi mahasiswa KKNT UTM, kolaborasi tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas peran pengabdian perguruan tinggi. Mahasiswa tidak hanya berinteraksi langsung dengan masyarakat, tetapi juga membangun jejaring kemitraan dengan sekolah untuk menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan pendidikan di wilayah sasaran.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UTM, Dr. Iskandar Dzulkarnain, S.Th.I., M.Si., mengapresiasi sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menghadirkan kegiatan yang menggabungkan proses pembelajaran dengan aksi sosial.

“Kami mengapresiasi sinergi lintas institusi yang diwujudkan melalui perpaduan antara pembelajaran dan tindakan nyata untuk mendukung keberlangsungan pendidikan. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi dan sekolah dapat saling menguatkan dalam menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan sosial dan menciptakan dampak positif bagi masyarakat,” ungkap Iskandar.

Ia berharap kemitraan tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan sehingga kegiatan pendidikan dan pengabdian tidak hanya memberikan pengalaman bagi mahasiswa dan siswa, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan.

Di tengah upaya pemerataan pendidikan di Kabupaten Bangkalan, keberadaan Pojok Literasi Banyoneng Laok diharapkan dapat memperkaya sumber belajar dan memperluas kesempatan anak-anak untuk mengakses bahan bacaan. Namun, keberlanjutan manfaatnya tetap memerlukan pengelolaan yang baik, pemanfaatan fasilitas secara aktif, serta dukungan berbagai pihak.

Kolaborasi UTM dan SMAN 11 Surabaya ini memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap pendidikan dapat dimulai melalui langkah sederhana yang dilakukan bersama. Ratusan buku dan perlengkapan sekolah yang terkumpul bukan sekadar bantuan material, melainkan wujud solidaritas untuk mendukung anak-anak agar memiliki kesempatan belajar yang lebih baik.

Dari ruang kelas di Surabaya hingga masyarakat Desa Banyoneng Laok, pendidikan menjadi penghubung yang menyatukan pengetahuan, kepedulian, dan aksi nyata. Sinergi antara sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat diharapkan terus tumbuh menjadi gerakan bersama untuk memperluas akses belajar dan memperkuat keberlanjutan pendidikan di Madura.

Leave a reply