Rektor UTM Ajak Mahasiswa Asrama Melampaui Batas Keadaan melalui Pendidikan dan Ketekunan

BANGKALAN — Rektor Universitas Trunodjoyo Madura (UTM), Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., mengajak mahasiswa untuk tidak menjadikan keterbatasan keadaan sebagai alasan untuk berhenti meraih cita-cita. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Kajian Bersama Rektor UTM yang digelar oleh Asrama Mahasiswa di Halaman Asrama Gedung A UTM, Senin (21/9/2026).
Mengangkat tema “Melampaui Batas Keadaan: Pendidikan, Potensi, dan Ketekunan dalam Membangun Masa Depan”, kegiatan tersebut diikuti sekitar 700 mahasiswa penghuni asrama. Acara diawali dengan salat Magrib berjamaah yang diimami langsung oleh Rektor UTM, dilanjutkan dengan zikir, doa, dan kajian.
Direktur Asrama Mahasiswa UTM, Ahmad Jamiul Amil, M.Pd., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa asrama tidak hanya menjadi tempat tinggal mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan penguatan nilai-nilai kehidupan.
Menurutnya, proses pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual. Pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam membentuk mahasiswa agar mampu menghadapi tantangan kehidupan.
“Kesuksesan itu bukan hanya ditinjau dari IQ, namun juga didukung yang paling utama adalah pendidikan karakter,” ujarnya.
Dalam kajiannya, Prof. Dr. Safi’ membagikan pengalaman hidupnya kepada mahasiswa. Ia menceritakan perjalanan pendidikan yang dilalui dalam kondisi ekonomi keluarga yang terbatas. Bahkan, sebelum melanjutkan pendidikan, ia sempat berhenti sekolah selama beberapa tahun karena keterbatasan biaya.
Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan keinginannya untuk memperoleh pendidikan. Ia bekerja untuk mengumpulkan biaya sekolah dan terus berusaha mencari jalan agar dapat melanjutkan pendidikan.
“Keterbatasan keadaan itu bukan penghalang untuk kita bisa menjadi sukses. Asal ada kemauan, ada kerja keras, ada ikhtiar baik lahir maupun batin, insyaallah apa yang kita cita-citakan dapat kita raih,” tutur Prof. Safi’.
Ia kemudian menceritakan bagaimana kesempatan memperoleh beasiswa menjadi salah satu jalan yang membantunya melanjutkan pendidikan. Prestasi akademik yang diraih sejak sekolah menjadi pintu bagi berbagai kesempatan pendidikan hingga akhirnya ia dapat melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Bagi Prof. Safi’, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keadaan tidak selalu menentukan masa depan seseorang. Kemauan untuk belajar, bekerja keras, dan terus berikhtiar menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai keterbatasan.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam proses pendidikan. Menurutnya, hambatan dan kegagalan dapat menjadi bagian dari proses untuk membangun ketangguhan diri.
“Seberat apa pun tantangan, rintangan, dan cobaan, jangan membuat kalian putus asa. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT,” pesannya.
Selain menekankan pentingnya ketekunan dalam belajar, Prof. Safi’ juga mengajak mahasiswa membangun keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritualitas. Ia berharap kehidupan di asrama dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membangun kebiasaan positif, memperdalam ilmu, sekaligus memperkuat hubungan spiritual.
Ia mengibaratkan asrama sebagai ruang untuk melakukan refleksi dan pengembangan diri. Mahasiswa didorong untuk memanfaatkan masa tinggal di asrama dengan belajar, berdiskusi, melakukan penelitian, serta membangun kebiasaan baik secara konsisten.
“Saya berharap asrama mahasiswa ini menjadi semacam Gua Hira bagi kalian semua,” ungkapnya.
Menurutnya, ilmu pengetahuan harus mampu diinternalisasi menjadi karakter dan kepribadian. Karena itu, proses akademik perlu berjalan beriringan dengan pembentukan spiritualitas dan kebiasaan positif.
“Ilmu ini penting agar tidak hanya berhenti di otak kita, tapi bagaimana menginternalisasi, menjadi karakter, menjadi kepribadian,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor UTM juga menekankan pentingnya konsistensi dalam belajar. Ia menggunakan kisah Imam Ibnu Hajar sebagai ilustrasi bahwa proses belajar membutuhkan ketekunan dan tidak selalu berlangsung secara instan.
Ia mengajak mahasiswa untuk terus berusaha meskipun menghadapi kesulitan akademik maupun keterbatasan ekonomi.
“Jangan pernah berhenti belajar. Jangan pernah berhenti berusaha,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Safi’ menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi penting dalam membangun kehidupan. Ia mengajak mahasiswa untuk serius dalam membaca, berdiskusi, menulis, melakukan penelitian, serta mengembangkan kemampuan di bidang keilmuan masing-masing.
Namun, pengembangan ilmu tersebut, menurutnya, perlu berjalan seimbang dengan penguatan iman dan spiritualitas. Dengan keseimbangan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter dan kepedulian terhadap masyarakat.
“Ayo kita seimbangkan ikhtiar lahiriah kita dengan rajin belajar, rajin berdiskusi, rajin menulis, melakukan penelitian, dan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya dengan latihan spiritualitas keimanan kita,” pesannya.
Menutup kajian, Rektor UTM mendoakan agar seluruh mahasiswa mampu menyelesaikan pendidikan dengan lancar dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Ia berharap mahasiswa penghuni asrama dapat menjadikan pengalaman selama berada di lingkungan kampus sebagai bagian dari proses membangun masa depan, dengan tetap memegang teguh semangat belajar, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah.
“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi kehidupan manusia lainnya,” pungkasnya.