UTM Bangun Budaya Peduli Kesehatan Mental lewat Peer Counselor

5
0
Share:

BANGKALAN — Tidak semua persoalan membutuhkan jawaban segera. Terkadang, seseorang hanya membutuhkan teman yang bersedia duduk, mendengar, dan membuatnya merasa tidak sendirian. Pesan inilah yang menjadi salah satu semangat dalam kegiatan Peer Counselor “Teman Bicara, Teman Bertumbuh” yang digelar UPA Bimbingan dan Konseling Universitas Trunodjoyo Madura (UTM), Selasa (15/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Lantai 10 UTM, tersebut mempertemukan mahasiswa, jajaran bidang kemahasiswaan, guru BK, serta siswa dari sejumlah sekolah di sekitar Bangkalan. Peserta berasal antara lain dari SMAN 1 Kamal, SMK 1 Kamal, SMKN 1 Bangkalan, MAN Bangkalan, SMA 2 Bangkalan, SMK Yannas Husada, hingga PPA Sidoarjo.

Ketua UPA Bimbingan dan Konseling UTM, Hera Wahyuni, mengatakan kemampuan menjadi teman bicara tidak cukup hanya dengan mendengarkan suara. Lebih dari itu, seseorang perlu mampu memahami perasaan dan pengalaman orang yang sedang bercerita.

“Ketika kita sedang curhat, kita merasa dipahami. Teman kita hadir, mengerti apa yang kita pikirkan dan rasakan, menjaga kerahasiaan, serta tidak menghakimi,” kata Hera.

Menurutnya, keberadaan konselor sebaya menjadi penting karena tidak semua mahasiswa atau siswa langsung merasa nyaman untuk datang kepada konselor maupun tenaga profesional. Teman sebaya dapat menjadi pintu awal untuk memberikan dukungan sekaligus membantu mengenali kapan seseorang membutuhkan bantuan lebih lanjut.

Pesan serupa disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Alumni UTM, Surokim. Ia menilai kesehatan mental merupakan bagian penting dalam membangun keberhasilan mahasiswa.

Di tengah kehidupan kampus yang diwarnai beragam persoalan, mahasiswa membutuhkan lingkungan yang mampu memberikan dukungan. Karena itu, budaya saling peduli dan keberanian untuk berbicara perlu terus dibangun.

“Manusia tidak mungkin tidak memiliki masalah. Yang penting adalah bagaimana kita mengatasi masalah,” ujarnya.

Surokim juga menekankan pentingnya daya juang dan ketangguhan mahasiswa dalam menghadapi persoalan. Menurutnya, kemampuan untuk bangkit setelah menghadapi masalah menjadi salah satu kekuatan yang perlu terus dikembangkan.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk tidak memendam persoalan sendirian. Berbicara dengan teman yang dipercaya dapat menjadi salah satu langkah awal untuk mengurangi beban dan mendeteksi persoalan sebelum berkembang lebih jauh.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi dari Belia A. Kartika D. mengenai peer counselor dan psychological first aid (PFA).

Kartika menjelaskan, konselor sebaya bukanlah pengganti psikolog atau konselor profesional. Mereka merupakan teman sebaya yang telah mendapatkan pelatihan untuk memberikan dukungan awal kepada teman yang sedang menghadapi kesulitan.

“Tujuannya bukan menyelesaikan masalah atau memberikan terapi, tetapi memberikan ketenangan dan rasa terhubung,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan peserta agar tidak terburu-buru memberikan label atau diagnosis psikologis kepada orang lain berdasarkan apa yang dibaca di media sosial.

Menurut Kartika, seorang konselor sebaya perlu memahami batas kemampuan dirinya. Ketika persoalan yang dihadapi teman sudah berada di luar kapasitasnya, termasuk ketika muncul indikasi menyakiti diri, maka bantuan perlu diteruskan kepada pihak yang lebih kompeten.

“Tidak ada salahnya mengakui ketika kita membutuhkan bantuan. Mengenali kapan seseorang perlu mendapatkan bantuan profesional merupakan bagian dari kesadaran terhadap kesehatan mental,” tuturnya.

Selain itu, peserta dikenalkan dengan sejumlah keterampilan dasar dalam mendampingi teman, seperti menjaga kerahasiaan, membangun empati, mendengarkan secara aktif, mengajukan pertanyaan terbuka, merangkum persoalan, memberikan umpan balik, serta melakukan rujukan.

Kemampuan mendengarkan secara aktif menjadi salah satu penekanan utama. Konselor sebaya dituntut untuk hadir sepenuhnya ketika teman bercerita, tidak sibuk dengan telepon genggam, tidak memotong pembicaraan, serta memberikan respons yang menunjukkan bahwa cerita tersebut benar-benar diperhatikan.

Dengan pendekatan tersebut, teman yang sedang menghadapi masalah diharapkan dapat merasa diterima dan memiliki ruang yang aman untuk mengungkapkan apa yang dirasakan.

Melalui Peer Counselor, UTM tidak hanya membekali mahasiswa dengan keterampilan komunikasi dan pendampingan dasar. Program ini juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kampus yang lebih peduli terhadap kesehatan mental.

Leave a reply