Kongres Budaya Madura 2025 Hadirkan Orasi Kebudayaan Menteri Kebudayaan RI

30
0
Share:

Bangkalan, 22 Desember 2025 — Kongres Budaya Madura 2025 yang digelar di Gedung Pertemuan R.P. Mohammad Noer, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), menjadi ruang dialektika kebudayaan yang mempertemukan pemikiran, nilai, dan arah masa depan Madura. Pada forum tersebut, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Fadli Zon, M.Sc., menyampaikan orasi ilmiah sebagai bagian dari rangkaian kegiatan bertema “Glokalisasi Madura, Mengakar di Madura Berdampak untuk Dunia dan Peresmian Museum Budaya Madura Universitas Trunojoyo Madura Tahun 2025”.

Kehadiran Menteri Kebudayaan RI disambut dengan pertunjukan seni tradisi khas Madura, Ul-daul dan Tari Vidya Loka, yang menghadirkan atmosfer kultural sejak awal acara. Nuansa tersebut semakin diperkaya dengan pameran UMKM Jamu Madura yang menampilkan beragam ramuan tradisional, menegaskan bahwa pengetahuan lokal Madura tidak hanya diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga terus hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, S.IP., M.H., dalam sambutannya menekankan bahwa penyelenggaraan Kongres Budaya Madura dan peresmian Museum Budaya Madura merupakan momentum penting bagi perjalanan peradaban Madura. Ia memaknai glokalisasi sebagai sikap kebudayaan yang menempatkan Madura sebagai subjek aktif dalam percaturan global, tanpa tercerabut dari akar identitasnya. Menurutnya, museum bukan sekadar ruang penyimpanan artefak, melainkan wahana pembelajaran nilai yang membentuk karakter generasi bangsa. Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam membangun peradaban berbasis ilmu pengetahuan dan budaya.

Rektor Universitas Trunojoyo Madura, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., menyampaikan bahwa Kongres Budaya Madura 2025 memiliki makna simbolik karena bertepatan dengan peringatan Hari Ibu. Momentum tersebut, menurutnya, merefleksikan peran perempuan sebagai penjaga utama nilai, bahasa, dan tradisi dalam keluarga dan masyarakat. Ia menegaskan bahwa UTM, dengan lebih dari 21 ribu mahasiswa yang berasal dari berbagai latar belakang budaya, memiliki tanggung jawab untuk merawat kebhinekaan melalui pendidikan yang berakar pada kearifan lokal.

Peresmian Museum Budaya Madura, lanjut Rektor, merupakan ikhtiar akademik agar mahasiswa tidak terputus dari akar budayanya, sekaligus memiliki identitas yang kokoh dalam menghadapi dinamika global. Ia juga mengungkapkan komitmen UTM dalam mengembangkan Program Studi Bahasa Madura sebagai upaya sistematis menjaga keberlanjutan bahasa daerah. Menurutnya, kebijakan muatan lokal bahasa Madura perlu diperkuat dengan kebijakan pendidikan tinggi yang menyiapkan tenaga pendidik bahasa Madura secara profesional dan berkelanjutan. Pada kesempatan tersebut, Rektor turut menyampaikan apresiasi atas penetapan tiga Warisan Budaya Takbenda asal Kabupaten Bangkalan sebagai pengakuan nasional terhadap kekayaan budaya lokal.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan penyerahan sketsa foto Menteri Kebudayaan RI oleh Rektor UTM sebagai simbol penghormatan, disertai cinderamata khas Madura. Menteri Kebudayaan RI kemudian menyerahkan Piagam Penghargaan Warisan Budaya Takbenda kepada Bupati Bangkalan atas pengakuan terhadap Udeng Tongkos, Topeng Patengteng, dan Batik Genthongan Tanjung Bumi sebagai ikon budaya Bangkalan yang memiliki nilai historis dan identitas kuat.

Pada sesi puncak, Dr. Fadli Zon, M.Sc. menyampaikan orasi ilmiah yang menegaskan posisi kebudayaan sebagai amanat konstitusi sebagaimana tertuang dalam Pasal 32 UUD 1945. Ia menyampaikan bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai pilar strategis pembangunan nasional, tidak hanya sebagai identitas, tetapi juga sebagai sumber kekuatan ekonomi dan diplomasi budaya. Konsep glokalisasi, menurutnya, menjadi jembatan agar budaya Madura tetap berakar secara lokal, sekaligus adaptif dan berdaya saing di tingkat global. Dalam konteks tersebut, museum dipandang memiliki peran sentral sebagai ruang edukasi, pelestarian, dan inovasi budaya yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Orasi ilmiah tersebut semakin bermakna dengan pembacaan puisi oleh Budayawan Nasional K.H. D. Zawawi Imron. Melalui larik-larik puisinya, ia menghadirkan refleksi mendalam tentang jiwa, keberanian, dan spiritualitas masyarakat Madura, menegaskan bahwa kebudayaan hidup tidak hanya dalam benda dan artefak, tetapi juga dalam bahasa, rasa, dan kesadaran kolektif.

Melalui Kongres Budaya Madura 2025, Universitas Trunojoyo Madura menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang berpijak pada kearifan lokal. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat posisi budaya Madura di tingkat nasional, sekaligus mendorongnya tampil sebagai kekuatan budaya yang berdampak dan diperhitungkan di ranah global.

 

Leave a reply