Di Hari Guru Nasional, UTM Kukuhkan Dua Profesor dan Perkuat Daya Saing Akademik

26
0
Share:

Bangkalan, 25 November 2025 — Suasana hikmat menyelimuti Gedung R.P. Mohammad Noer, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), ketika Sidang Terbuka Senat Universitas kembali mencatatkan sejarah baru. Dua akademisi senior resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-28 dan ke-29 UTM, menandai langkah penting kampus dalam memperkuat kualitas akademik dan memperluas kontribusi keilmuan di tingkat nasional.

Prosesi dimulai dengan pembukaan sidang oleh Ketua Senat Universitas, disusul pembacaan naskah pengukuhan oleh Sekretaris Senat. Pembacaan tersebut tidak hanya menjadi pernyataan formal, tetapi juga simbol legitimasi atas perjalanan panjang dua akademisi yang telah mengabdikan puluhan tahun untuk riset, pendidikan, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Guru Besar pertama yang dikukuhkan, Prof. Dr. Sutikno, SE., ME., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Analisis Kritis dan Rekonstruksi Ilmu Ekonomi Terapan Menuju Ekonomi Inklusif dan Keberlanjutan.”

Dalam paparan ilmiahnya, Prof. Sutikno mengajak audiens meninjau ulang fondasi ekonomi terapan modern. Ia menyoroti paradoks yang selama ini membayangi perkembangan ekonomi global: pertumbuhan terjadi, tetapi ketimpangan tetap lebar, kemiskinan struktural bertahan, sementara kerusakan lingkungan meningkat.

Prof. Sutikno menilai bahwa ekonomi terapan perlu didekati dengan perspektif baru—lebih inklusif, berbasis keberlanjutan, dan mengedepankan etika serta nilai kemanusiaan. Ia juga memperkenalkan tiga model pembangunan hasil risetnya: IARD-Model, MELATI, dan BAROKAH, yang menawarkan kerangka holistik bagi pengembangan wilayah berbasis keadilan sosial, ekologi, dan spiritualitas.

Pengukuhan berikutnya diberikan kepada Prof. Dr. Kukuh Winarso, S.Si., M.T., dari Fakultas Teknik. Dalam orasinya bertajuk “Statistik dan Manajemen Data: Prediksi dengan Regresi Data Panel dan Machine Learning,” Prof. Kukuh menegaskan bahwa era digital telah membawa transformasi besar dalam cara manusia memahami dan memanfaatkan data.

Menurutnya, kemampuan mengolah data skala besar merupakan salah satu pilar utama pengambilan keputusan modern. Ia memaparkan bagaimana integrasi regresi data panel dengan algoritma machine learning menghasilkan pendekatan prediktif yang lebih presisi, sekaligus menjadi dasar kuat bagi kebijakan publik berbasis data.

Prof. Kukuh menekankan bahwa literasi data kini bukan lagi keahlian teknis semata, melainkan fondasi daya saing nasional di tengah transformasi digital dan ekonomi berbasis inovasi

Rektor UTM, Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., secara resmi mengalungkan gordon kepada kedua profesor baru tersebut. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan apresiasi atas kontribusi ilmiah keduanya serta menegaskan bahwa pengukuhan ini merupakan bagian dari perjalanan panjang UTM dalam membangun kapasitas akademik.

“Bertepatan dengan Hari Guru Nasional 2025, pengukuhan dua Guru Besar ini kami harapkan membawa kemanfaatan yang semakin luas bagi UTM,” ujarnya. Ia juga menyinggung keberlanjutan pengembangan SDM akademik UTM, dengan menyebut bahwa gelombang baru pengukuhan akan menyusul: tiga calon Guru Besar telah memasuki tahap siap dikukuhkan, sementara tujuh lainnya masih dalam proses penilaian.

Menurut Rektor, capaian ini selaras dengan upaya perguruan tinggi mendukung agenda Asta Cita Presiden menuju Indonesia Emas 2045, terutama dalam memperkuat basis ilmu pengetahuan, inovasi, dan kualitas sumber daya manusia.

Dengan dikukuhkannya Prof. Sutikno dan Prof. Kukuh Winarso, jumlah profesor aktif UTM semakin bertambah, memperkuat kontribusi kampus dalam pengembangan ilmu ekonomi terapan, statistik, big data, dan machine learning—bidang-bidang strategis yang menjadi fondasi kebijakan berbasis bukti di masa depan.

Pengukuhan ini menegaskan komitmen Universitas Trunojoyo Madura untuk terus tumbuh sebagai institusi yang adaptif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan bangsa, sekaligus menjadi rumah bagi pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak.

Leave a reply