UTM Luncurkan Prodi Teknologi Pangan, Wujud Komitmen Menuju Kemandirian dan Ketahanan Pangan Nasional

34
0
Share:

Bangkalan, 13 November 2025 — Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi negeri yang adaptif terhadap arah pembangunan nasional dengan meluncurkan Program Studi Teknologi Pangan. Peluncuran tersebut dikemas dalam Seminar Nasional bertema “Teknologi Pangan Menuju Generasi Cerdas dengan Food Wisdom dan Food Intelligence” yang berlangsung di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Gedung Graha Utama lantai 10 UTM.

Kelahiran prodi baru ini menjadi bentuk nyata sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam menjawab tantangan pangan masa depan sekaligus mendukung Asta Cita keempat Presiden RI, yang menekankan pentingnya swasembada pangan, energi, dan air untuk mencapai kemandirian bangsa.

Acara yang berlangsung meriah ini dihadiri oleh Rektor UTM Prof. Dr. Safi’, S.H., M.H., Bupati Bangkalan Lukman Hakim, S.IP., M.H., jajaran pimpinan universitas, para dekan, kepala SMA/MA se-Kabupaten Bangkalan, serta mahasiswa Fakultas Pertanian dan civitas akademika lintas disiplin.

Dalam sambutannya, Bupati Bangkalan Lukman Hakim menyampaikan apresiasi atas langkah UTM membuka Program Studi Teknologi Pangan. Menurutnya, keberadaan prodi ini menjadi langkah strategis yang sejalan dengan arah kebijakan nasional di sektor pangan.

“Tema seminar ini sangat relevan dengan tantangan zaman. Potensi Bangkalan sebagai gerbang distribusi pangan ke wilayah timur Indonesia harus dikelola dengan teknologi dan inovasi. Pangan bukan hanya urusan dapur, tetapi fondasi ketahanan nasional,” tegasnya.

Lukman menambahkan, paradigma pertanian kini perlu bergeser dari sekadar kegiatan budaya menuju orientasi ekonomi. Kolaborasi pemerintah daerah dan perguruan tinggi, menurutnya, dapat meningkatkan efisiensi pascapanen, memberi nilai tambah pada hasil pertanian, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
“UTM kami harapkan menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam membangun inovasi pertanian dan pangan berbasis teknologi. Ini adalah kontribusi Madura bagi kemandirian pangan Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UTM Prof. Safi’ menegaskan bahwa pendirian Program Studi Teknologi Pangan merupakan bagian dari strategi universitas untuk berkontribusi pada agenda prioritas nasional.
“UTM kini memiliki 34 program studi aktif dan menargetkan pembukaan 20 program baru hingga 2026. Teknologi Pangan menjadi prodi yang memadukan inovasi, kearifan lokal, dan ketahanan pangan sebagai inti pembelajaran,” tutur Rektor.

Ia menambahkan, prodi ini tidak hanya menyiapkan tenaga ahli di bidang pangan, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki food wisdom — kebijaksanaan dalam memanfaatkan sumber daya lokal — dan food intelligence — kecerdasan dalam mengelola pangan secara modern dan berkelanjutan.

Peluncuran prodi ditandai dengan pemukulan gong simbolis oleh Rektor, Wakil Rektor, Bupati, dan Dekan Fakultas Pertanian, disertai penayangan video profil Prodi Teknologi Pangan. Momen ini menjadi simbol dimulainya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam memperkuat sistem pangan nasional.

Sebagai keynote speaker, Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN) Dr. Ir. Tigor Pangaribuan hadir secara daring membawakan materi bertajuk “Arah Kebijakan BGN di Masa Mendatang Berkaitan dengan Keamanan Pangan dan Ekonomi Program Makan Bergizi Gratis (MBG)”.

Ia menjelaskan bahwa BGN memiliki peran vital dalam membangun Generasi Emas 2045 melalui tata kelola pangan nasional yang efisien dan inklusif.
Menurutnya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar program pemberian makan, melainkan gerakan nasional yang menumbuhkan ekonomi desa melalui ekosistem Circular Economy Village — jejaring produksi dan distribusi pangan berbasis komunitas yang melibatkan petani, nelayan, koperasi, dan UMKM pangan.

“Setiap satuan pelaksana program gizi mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi lokal. MBG adalah sistem ekonomi pangan yang berkelanjutan, dan perguruan tinggi seperti UTM punya peran penting dalam menyiapkan SDM ahli di bidang ini,” tegasnya.

Dalam sesi diskusi panel, Prof. Ir. Umi Purwandari, M.App.Sc., Ph.D., menyoroti pentingnya pendidikan yang menumbuhkan kesadaran pangan berbasis kearifan lokal.
Dekan Fakultas Pertanian UTM, Dr. M. Fuad Fauzul Mu’tamar, S.TP., M.Si., menambahkan bahwa digitalisasi rantai pasok melalui IoT, AI, dan Blockchain akan menjadi solusi untuk menekan food loss yang masih tinggi di Indonesia.
Sementara itu, Prof. Annis Catur Adi dari Universitas Airlangga menekankan bahwa investasi gizi adalah investasi peradaban, dan riset pangan harus menjadi prioritas nasional.

Dengan hadirnya Program Studi Teknologi Pangan, Universitas Trunojoyo Madura meneguhkan diri sebagai kampus yang unggul, tangguh, dan mandiri, serta menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan pemberdayaan ekonomi lokal.

Leave a reply