Masih Tentang ‘Anak’, Tembok Rumah Kami, & Sense of Belonging

Keluarga besar di rumah kami tengah menjalani cobaan dan ujian bertubi-tubi dan lumayan2 rumit dalam rentang 2 bulan di tahun ini. Tentu saja kami patut sedih dan iba. Namun, kami yakin pada saatnya nanti kami bisa lebih tabah, tegar, sabar, dan lebih kuat.
Silih berganti terpaan angin kencang menghantam tembok rumah kami dibulan ini. Seakan mengirim pesan bahwa hati hati berada di rumah ini. InsyaAllah semua ini akan membawa hikmah dan penguatan untuk kami dan rumah kami. InsyaAllah selalu ada pelangi indah dibalik hujan dan ombak badai deras yang menerpa.
Kami bersama telah berjuang sekuat tenaga membangun keindahan, kepantasan rumah ini guna mewujudkan rumah indah, tempat dan dambaan kita bersama. Namun, apa daya angin sering terlalu kencang hingga mulai banyak lubang2 tembok yang diterpa angin yang membuat rumah ini mulai compang camping penuh coretan.
Di tengah badai itu kami berusaha tegar dan tidak kenal lelah, terus bahu membahu menjaga, memelihara, dan terus menciptakan kebaikan kebaikan demi kebaikan dan keindahan rumah itu.
Ya, saya setuju memang tidak ada gading yang tak retak. Tidak ada rumah yang sempurna sebagai ciptaan mahluq di bumi ini. Selalu ada yang kurang dan lebih di sana sini. Sunnatullah, di rumah kami pun begitu, masih banyak bolong-bolongnya yang harus diperbaiki dan ditambal.
Kendati demikian, karena didorong keinginan untuk memperbaiki dan menyempurnakan bangunan rumah yang kami cintai, kami senantiasa berusaha terbuka, bergandengan tangan dengan berbagai pihak. Kami sepanjang masuk akal dan tak mengada-ada terus menciptakan kehanggatan di ruang tengah guna menciptakan kesalingpahaman anggota keluarga agar terbentuk rasa memiliki (sense of belonging).

Keinginan kami sesungguhnya tidak muluk muluk. Bagaimana agar kita bersama bisa menjadi keluarga yang baik, bicara baik dan memberi manfaat sebanyak-banyaknya agar rumah ini bisa nampak indah dan nyaman dipandang dan didiami bersama.
Salah satu yang menyita perhatian dan energi kami akhir akhir ini adalah tentang lunturnya sense of belonging keluarga kami sendiri di rumah ini.
Tanpa disadari mereka melempari dan mencoret rumahnya sendiri secara istiqomah atas nama perubahan dan evaluasi. Tidak hanya itu anggota keluarga kami juga kerap mengajak para teman dan juga tetangga ikut serta. Akhirnya, kami orang tua menjadi kewalahan dan rumah kami akhirnya menjadi gaduh tak berujung.
Kami tidak tahu apa yang menggerakkan mereka menjadi begitu hobby kah, habitkah, meludah di sumur yang airnya mereka minum sendiri. Apa demi viralitas dan kehebohan hingga menjadi jalan pintas agar bisa menuai atensi publik.
Akhir akhir ini mulai banyak anak-anak kami gemar berkomunikasi tanpa berpikir akibat dan efek yang muncul kemudian. Padahal setiap orang semestinya harus juga bisa memikirkan dampak komunikasi yang bisa timbul karena dampak tidak bisa dihapus dan dihilangkan.
Dalam komunikasi hal ini disebut Irreversible. Sejawat saya mengatakan pesan komunikasi bisa meliputi pesan verbal dan non verbal. Pesan ini ketika sudah disampaikan oleh encoder (individu, organisasi, kelompok, media) tidak bisa ditarik kembali beserta efeknya.
Memang sih media sosial kadang bisa menjadi pematik dan amplifier. Namun, sekali lagi pengendlaian diri terkait hal ini penting di pegang sebagai kompas jalan.
Ya tentang sense of belonging kita bersama pada rumah bersama ini. Hal ini menurut saya relevan, penting dan urgent untuk kami sampaikan berulang-ulang berkelanjutan. Minimal sebagai reminder sebagai bagian dari keluarga besar.
*Sense of belonging dan rumah kita bersama*
Rumah ini sebagaimana diamanatkan para pendiri harus kita rawat bersama. Demi rumah yang lebih baik, semua pihak memang diminta kontribusi terbaiknya. InsyaAllah semua sepakat akan hal tersebut. Apalagi di rumah ini tempat abadi kami bermain, bercengkrama, makan minum, bekerja dan beristirahat sehari-hari.

Saya yakin sebenarnya tidak ada anggota keluarga yang mau merobohkan rumah milik bersama ini karena kami percaya bahwa rumah ini adalah rumah indah, tempat kami membangun peradaban dan kenyamanan bersama.
Tentang anggota keluargaa kami yang kena cubit sayang, sebagai orang tua kami ingin kembali menegaskan bahwa di setiap rumah selalu ada adab, sopan santun dan akhlaq yang diajarkan yang menjadi kompas jalan dan pegangan bersama agar tujuan substantif bisa diraih dengan baik. Sepanjang pengetahuan kami tidak ada orangtua yang sewenang wenang kepada anaknya.
Kami memahami hal yang wajar jika dalam keluarga ada anak yang berbeda dan sesekali bergolak ‘nakal’ karena memang manusia tidak selalu sama. Namun, kalau nakal berkepanjangan, tentu juga patut dicari sebab musababnya. Apakah kurang kasih sayang, atau sebab yang laina mengapa mereka bisa menjadi begitu.
Kami yakin anak di keluarga kami akan bisa berubah dan bisa memahami karena selalu ada getaran getaran dalam komunikasi yang tidak harus selalu bisa diperdebatkan. Saya yakin jika mau membuka radar hati, frekuensi tersebut bisa bertemu dan semua bisa diterima dengan kesadaran yang tinggi.
Melalui pembinaan dan edukasi yang kami lakukan sebagai bagian dari ikhtiar perbaikan. Penguatan karakter, kompetensi dan literasi berkelanjutan sebagai learning society.
Kami kuatkan rasa memiliki, rasa cinta rumah bersama ini. Kami usahakan agar keluarga kami merasa tetap menjadi bagian dari keluarga besar yang punya tanggung jawab menjaga rumah besar ini.
Jika kemudian ada anggita keluarga kami yang kemudian ramai mengadu ke para tetangga. Tentu kami punya kewajiban untuk bisa meluruskan agar para tetangga bisa memeroleh informasi yang utuh dan tidak sepengal pengal.
Para tetangga yang mengasihi anak kami, khususnya anak anak sulung kami, perlu tahu bahwa perjalanan membangun rumah ini sungguh panjang dan berkelok. Ada best pratices yang bisa dipakai sebagai rujukan untuk membangun rumah masa kini dan masa depan.
Ibarat lintasan balap, jalan yang ditempuh untuk membangun rumah ini panjang dan berkelok-kelok. Peristiwa yang terjadi juga kadang tidak sesimple yg dibayangkan. Laksana fenomena gunung es, apa yang tampak dipermukaan hanyalah sedikit yang bisa diketahui yang sesungguhnya jauh lebih kompleks.
Tentu kami mengucapkan terima kasih atas perhatian para tetangga. Pihak pihak yang mendadak peduli dengan anggota keluarga kami. Kami selalu dengarkan segala bentuk masukan membangun. Kami dengarkan berbwgaininformasi dengan jernih. Namun, izinkan kami sedikit menjewer dan memarahi anak sebagai bentuk kasih sayang.
Kami ingin anak kami tumbuh menjadi pribadi yang baik dan punya mindset positif berkelanjutan. Anak hebat yang selalu merindukan dan mencintai rumahnya dengan baik. Yang juga peduli memiliki sense of belonging kepada rumah yang ia diami. Menjadikan mereka anggota rumah yang merasa sedih dan iba jika rumahnya di lempari dan di hantami batu dari luar. Tujuannya agar mereka yang bisa enjoy dan happy dirumahnya. Mereka yang bisa feel at home.
Kami senantiasa berharap mereka bisa menikmati rumahnya sendiri dan tidak terlampau silau pada hijaunya rumput rumah tetangga.
Jika ada anggota keluarga kami masih terus berteriak dan terus mengadu ke tetangga. Bantulah kami untuk menasihati dan mengembalikan meraka. Jangan disiram bensin yang membuat mereka tambah bersorak sorai merayakan kemenangan sesaat.
Bantulah menasihati hingga mereka mencapai batas kesadaran sebagai anak keluarga kami. Hingga mereka sadar bahwa mengolok-olok orang tua, melempari rumahnya sendiri itu sesungguhnya tidak baik dan tindakan tidak terpuji.
Izinkan, kami ingin mencatat kenakalan itu seraya berdoa agar mereka bisa menyadari. Sudah benarkah polah perilaku dan mindset selama ini?? Mereka yang punya hati dan kepedulian, sikap emphatik yang menguatkan rumah ini. Apa rasa cinta itu selalu harus diekspresikan dengan cara negatif seperti itu? Apa mereka sudah tahu bedanya antara mencubit dan memukul ? Sejauh mana mereka mau ikut serta memperbaiki rumah ini kembali? Itulah deretan pertanyaan reflekstif yang ingin kami sampaikan.
Bayangkan kami yang ikhlas memberi uang saku tiap hari untuk bekal jajan disekolah, tetapi tiap pulang kami yang terus dipukuli dan rumah ini dilempari batu saban waktu secara konsisten.
Mereka istiqomah melempari rumah demi meneriakkan evaluasi dan perbaikan. Seolah tidak ada yang terang dan bagus di rumah ini. Semua serasa gelap dan gelap. Apalagi narasi aduan yang dikembangkan selalu bisa bikin berkenyit dahi, ngeri ngeri sedap mulai dari intervensi, intimidasi, sanksi dst dst. Seolah kami ini orang tua yang baru belajar tentang cara berkomunikasi dan mencintai rumah ini.
Dialog, pembinaan, teguran lisan, tertulis tidak kurang kurang dilakukan seolah dianggap angin lalu. Kakak dirumah ini juga terus memberi saran dan meminta perbaikan, tetapi itu pun sering diabaikan.
Kepada guru guru anak kami juga kami mintakan tolong. Sejauh ini pun tidak dianggap sama sekali guna membangun respek dan kehormatan bersama.
*Tentang Mindset itu*
Saat diajak diskusi kolega saya, anggota keluarh kami yang gemar menulis di tembok rumah menyampaikan hal mencegangkan untuk kita renungkan dan menjadi refleksi bersama. 1) kami mencoret coret maka kami ada, kebebasan berekspresi dijamin, efek dan akibat merugikan irreversible atau destruktif, tak perlu dipertimbangkan, yang penting viral sesuai fakta. Toh itu biar menjadi evaluasi, untuk apa peduli, karena bukan tanggung jawab mereka. Toh ada pihak yang mengurus untuk mengecat kembali tembok itu. 2) Maunya dibiarkan untuk mencoret tembok itu tanpa teguran dan sensor demi kebebasan berekspresi. 3) Maunya tanpa ada cubitan apapun bentuknya jika ada kesalahan apapun bentuknya 4) Menolak bekerja sama demi menegakkan independensi dan kendali. Kendali adalah simbol otoritarianisme absolut yang harus dihancurkan. 5) Meminta didampingi tetangga untuk mediasi jika dicubit orang tuanya
Anak kami mungkin lupa. Sebebas-bebasnya coretan tetap akan ada sensor & kendali sebagai bentuk tanggungjawab. Siapapun anggota keluarga kamj harus tetap harus bertanggungjawab atas kualitas coretan di tembok rumah ini.
Mungkinkah karena mereka belajar dari orang yang yang memang membenci rumah ini!?!? Atau belajar dari bangsa konoha yang selalu menyalahkan keadaan tanpa introspeksi bahwa sesungguhnya mindset dan kualitas hidup khusnudlon yang membuat mereka absolutely berantakan.

Rangkaian kata kata ini tentu tidak cukup mewakili dan menggambarkan situasi saat ini, ini akumulasi dari daftar panjang perjalanan, ada trackrecord yang telah ditorehkan. Ini soal mindset anggota keluarga kami yang perlu diluruskan dan diperbaiki. Mereka bisa jadi cerdas secara ilmu, tetapi belum cerdas akhlaqnya dihadapan para gurunya. Semoga kami ikhas dan ridho.
Kembali ke laptop tentang tulisan ditembok rumah kami yang kami minta agar diganti namanya. Anak kami justru menantang alih alih demi kebaikan bersama, mereka menuntut justru menuntut agar ada alasan hukum yang bisa kami sampaikan kepada mereka terkait penggantian tulisan ditembok rumah itu.
Sejauh ini juga tidak ada refleksi, mengapa banyak anggota rumah yang engan ditanya dan bersedia dihubungi. Hal itu tidak pernah sekalipun menjadi refleksi dan bahan evaluasi mereka. Keluhan yang sering muncul, apa yang ditanyakan, apa yang ditulis tidak selalu sama sehingga banyak yang kemudian memutuskan untuk tidak melayani pertanyaan dan diskusi.
Saya sebagai orang tua hanya ingin mengingatkan soal irreverible tadi sebagai bentuk tanggung jawab sense of belonging terhadap rumah bersama tadi.
Terkait perubahan sikap sebagai orang tua, kami juga membaca QS Al Imran : 134 yang mengingatkan bahwa Waa afinnas, memaafkan menjadi ciri orang bertakwa yang dijamin surga. Kendati itu dan jalannya terjal dan super sulit dilakukan.
Sekali lagi ini sebenarnya ini bukan soal etika coret mencore tembok, ini tentang etika dan perilaku anak anggota keluarga kami. Jika keluh kesah kami masih dirasa belum cukup, silahkan para tetangga bantu menyadarkan agar tidak terus bertepuk tangan dan mengompori anak anak untuk melempari rumah kami, rumahnya sendiri. Ingatkan dan ajak kami bersama anak anak kami kembali bernyanyi tentang rumah kita ala Godbless. Semoga itu menjadi amal ibadah dan membuat kami kuat.
Semoga cobaan bertubi ini segera berlalu. Badai dan hujan deras ini bisa berhenti, bergati dengan bertemu pelangi indah untuk kebaikan dan keindahan pemandangan rumah kami bersama. Amin
@Surokim Abdus Salam – Orang tua di salah satu Rumah Perti di Jatim